Ingin Harga Daging Turun di Bawah Rp 80.000/Kg, Ini Saran KPPU

Ingin Harga Daging Turun di Bawah Rp 80.000/Kg, Ini Saran KPPU

Muhammad Idris - detikFinance
Jumat, 24 Jun 2016 20:52 WIB
Ingin Harga Daging Turun di Bawah Rp 80.000/Kg, Ini Saran KPPU
Foto: detikcom/Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta - Berbagai upaya dilakukan pemerintah supaya harga daging sapi bisa turun di bawah Rp 80.000/kg saat Ramadan, salah satunya dengan dibukanya keran impor daging beku oleh BUMN dan swasta. Namun, lewat dua pekan, harga daging sapi di pedagang pasar belum juga turun.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Muhammad Syarkawi Rauf, menjelaskan sebab utama mahalnya harga daging sapi segar berasal dari perusahaan penggemukan sapi (feedloter), dimana sapi masih dijual di harga kisaran Rp 43.000/kg bobot hidup.

"Dari feedloter Rp 43.000, masuk ke RPH (rumah potong hewan) naik 2 kali lipat harganya karena ketika jadi karkas (campuran daging dan tulang) tinggal 50%. Makanya begitu masuk RPH harganya jadi Rp 86.000 sudah karkas," jelas Syarkawi saat menyambangi kantor redaksi detikcom, Jakarta, Jumat (24/6/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perlu diketahui, sapi hidup yang dipotong di RPH akan menghasilkan karkas sebanyak 50%, kemudian 25% menjadi jeroan, kaki, kulit dan kepala, serta sisanya sebanyak 25% adalah darah, kotoran, dan lainnya.

Karkas inilah yang kemudian dijual ke pedagang pasar hingga 100.000/kg sesuai kualitas dagingnya. Dengan asumsi pedagang mengambil untung Rp 10.000-20.000/kg, maka harga daging ketika sampai di konsumen menjadi Rp 110.000-120.000/kg.

"Mau pakai kalkulator apa pun, kalau dari feedloter masih Rp 43.000, maka sampai di pedagang di atas Rp 100.000. Bagaimana caranya, turunkan harga di feedloter, hilangkan pajak, bea masuk, turunkan biaya logistik," ungkap Syarkawi.

"Karantina yang selama ini makan waktu lama juga harus dipercepat, sapi dikarantina lama kan stres, jadi bikin sapinya kurus. Karena lama pakan mahal. Kemudian buat industri turunannya, karena konsentrat (pakan) masih impor," tambahnya.

Menurut dia, pemerintah juga bisa membantu feedloter menurunkan harga daging sapi dengan merelaksasi ketentuan penetapan izin kuota impor yang selama ini hanya dikeluarkan setiap 3 bulan sekali. Hal ini membuat proses pengadaan sapi di Australia bisa lebih murah karena waktu yang lebih lama.

"Kuota sapi dikeluarkan setiap triwulan. Padahal sapi musim panas harganya beda saat beli sapi di musim dingin di sana, saat musim panas lebih murah. Beda harganya bisa Rp 6.000/kg, kalau itu dilakukan semua, bukan hal mustahil Rp 43.000 jadi Rp 30.000 di feedloter," kata Syarkawi. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads