Dalam raker tersebut, Wakil Ketua Komisi IV, Daniel Djohan, sempat 'menyentil' Amran terkait kebijakannya yang kurang menaruh perhatian lebih alias menganaktirikan sektor perkebunan, seperti kopi, dan lebih mementingkan peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai (pajale).
Sindirian tersebut terkait dengan alokasi penambahan anggaran sebesar Rp 50 miliar pada APBN-P 2016, yang dialokasikan untuk pajale berupa pembelian Alsintan (alat dan mesin pertanian) jagung sebesar Rp 20,5 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mencontohkan, komoditas kopi yang selama ini jadi andalan ekspor, justru tak diberikan banyak anggaran.
"Kopi ini andalan ekspor Indonesia sejak zaman VOC. Saya sejak dulu tak pernah mendengar ada program atau anggaran besar buat kembangkan ke sana," jelas Daniel.
Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Komisi IV, Edhy Prabowo, yang menganggap selama ini Kementan jarang memperhatikan petani kopi.
"Ada mau kenapa tidak kasih Rp 50 miliar ke kopi sekalian? Padahal kopi kan jelas bisa datangkan devisa besar, kita salah satu eksportir terbesar," ujar Edhy.
Menjawab hal tersebut, Amran menjelaskan, kecilnya anggaran untuk kopi lantaran petani kopi sudah mendapat bantuan lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR), sehingga petani pajale dianggap yang paling membutuhkan anggaran saat ini.
"Kami sedang akselerasi padi, jagung, dan kedelai. Kita kurang alat tanam, karena alat buat jagung ini sangat penting dengan jumlah luasan tanam yang signifikan. Alat panen kita kurang banyak," jelas Amran.
"Untuk petani kopi kita sepakat pakai KUR. Karena untungnya kopi ini lebih tinggi dari padi, jagung, dan kedelai. Kami dorong pakai KUR," tambahnya. (feb/feb)










































