Rata-rata kecepatan kendaraan bermotor saat keadaan normal di Jakarta adalah sekitar 25 kilometer/jam, sedangkan saat macet hanya 14 km/jam.
Berdasarkan survei yang dibuat oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta, kemacetan di Jakarta membuat ongkos transportasi membengkak 2,9%. Selain biaya transportasi, perusahaan terpaksa harus menaikkan biaya persediaan bahan baku. Ujungnya, keuntungan yang diperoleh pengusaha pun berkurang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak lainnya ialah penurunan produktivitas pekerja. Sebab, para pekerja sudah lelah setelah menembus kemacetan untuk tiba di tempat kerja.
"Pasti orang berangkat bisa 3 jam sampai kantor sudah malas," tutur Doni.
Menurut perhitungan BI, produk daerah regional bruto (PDRB) DKI Jakarta menurun 0,16% akibat kemacetan lalu lintas yang parah ini. "Kalau macet nggak ada, PDRB bisa naik 0,16%," paparnya.
Selain kemacetan, masalah-masalah lain yang juga membuat pertumbuhan ekonomi Jakarta mandek adalah dwelling time di pelabuhan, banjir, dan keandalan sistem kelistrikan.
Dwell time membuat PDRB turun 0,49%, banjir berdampak sampai 0,26%. Kalau masalah kemacetan, banjir, dwell time, dan listrik ini bisa diatasi, pertumbuhan ekonomi Jakarta bisa naik sampai 1,05%.
"Kalau 4 masalah itu diselesaikan, pertumbuhan DKI bisa naik 1,05%," pungkasnya. (hns/hns)











































