Di Kepulauan Natuna, Jokowi menggelar rapat terbatas dengan beberapa menteri Kabinet Kerja mengenai percepatan pembangunan Natuna. Rapat digelar di atas kapal perang KRI Bonjol 383.
Kunjungan Jokowi ini terkait dengan klaim China bahwa perairan Natuna termasuk wilayah penangkapan tradisional nelayan China. Ketika ada kapal nelayan China yang ditangkap TNI Angkatan Laut karena mencuri ikan di perairan Natuna, pemerintah China membela nelayannya dengan argumen tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan arahan dari Jokowi tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan bahwa pihaknya memang ingin membangun industri perikanan di sana. Rencananya di sana akan dibangun pendingin (cold storage) untuk ikan.
"Pendingin saja, kalau ikan kalengan di sana kurang cocok. Pendingin yang utama," kata Susi dalam wawancara khusus dengan detikFinance di KKP, Jakarta, Selasa (28/6/2016).
Lanjut Susi, dua BUMN perikanan, yaitu Perum Perikanan Indonesia (Perindo) dan PT Perikanan Nusantara (Perinus) sudah siap untuk membangunnya. Beberapa pihak swasta juga berminat mengembangkan industri perikanan di Natuna. Tetapi kendalanya adalah pasokan listrik.
"Perindo mau masuk, Perinus mau masuk. Pengusaha yang punya kapal sudah pada senang mau ke sana. Tapi investor nunggu ada listrik," Susi mengungkapkan.
Susi berharap kementerian terkait dapat membantu menyelesaikan masalah pasokan listrik di Natuna.
"Belum ada listrik, persoalan besar kita adalah power plant. Not enough power, harus dipikirkan," tandasnya. (feb/feb)










































