Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan bahwa sedikitnya nelayan Indonesia di perairan Natuna ini merupakan dampak dari praktik-praktik korupsi di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga aparat penegak hukum.
Pada tahun 2001 dulu, ada oknum pejabat KKP yang menerbitkan izin penangkapan ikan di Laut Natuna untuk kapal-kapal asing. Izin tersebut diperjualbelikan, hanya kapal-kapal asing berduit banyak yang bisa memperolehnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu kesempatan yang diberikan pada nelayan dalam negeri itu tidak sama dengan yang diberikan kepada (nelayan) yang dari luar. Sudah orang luar kapalnya lebih gede, lebih canggih, dikasih tempatnya yang subur-subur yang kaya potensi ikannya. Itu mulai periode 2001," tutur Susi dalam wawancara khusus dengan detikFinance di KKP, Jakarta, Selasa (28/6/2016).
Kapal-kapal nelayan lokal yang berukuran kecil hanya diberi izin untuk melaut di wilayah-wilayah yang ikannya sedikit. Akibatnya nelayan lokal tak jadi tuan di negeri sendiri, semakin tak bisa berkompetisi dengan nelayan-nelayan asing, dan kesejahteraannya tak pernah meningkat.
"Dulu mereka (nelayan lokal) tidak pernah dikasih ke sana (Laut Natuna). Hanya orang yang bisa bayar, karena korupnya sistem yang dulu, bangsa sendiri nggak bisa dapat wilayah perikanan yang bagus," ujar Susi geram.
Susi bertekad untuk membalikkan keadaan, maka dia mencabut semua izin penangkapan untuk kapal-kapal asing. Laut Indonesia hanya diberikan untuk rakyat Indonesia, tak ada lagi jual izin untuk kapal asing.
Lalu demi menjaga kedaulatan Indonesia di perairan Natuna, dan supaya kekayaan laut Indonesia dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia sendiri, maka Susi akan meningkatkan kehadiran nelayan Indonesia di sana.
Susi berencana mengirim ribuan nelayan dari kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa untuk menangkap ikan di Natuna. Kini izin penangkapan ikan di Natuna tak lagi diberikan kepada kapal-kapal asing, tapi pada pada nelayan-nelayan dari negeri sendiri.
"Sekarang sudah ada 300-an kapal dari Pantura yang menangkap di sana. Kita akan bawa lebih banyak lagi. Kemampuan kita ada, kapal dari Pantura itu ribuan. Dari Jakarta sampai Surabaya itu 6.000 kapal besar-besar yang ukuran 70-200 GT itu ada," pungkasnya. (feb/feb)











































