Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), FX Sudirman, mengatakan pengunaan jagung impor terpaksa dilakukan lantaran pihaknya masih kesulitan mencari jagung lokal. Di sisi lain, program penambahan 1 juta hektar lahan jagung baru terasa beberapa bulan ke depan.
"Tahun ini kan masih sulit jagung, kenyataannya tidak ada jagung. Karena kita tahu jagung dibatasi impornya, terpaksa kita pakai gandum impor. Karena industri butuh kepastian, itu yang terpenting," terang Sudirman. kepada detikFinance, Rabu (29/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudirman menuturkan, bagi idustri pakan ternak, penggunaan gandum sebagai bahan baku merupakan pilihan terakhir, lantaran jagung memiliki kualitas yang lebih baik untuk ternak.
"Kalau ada jagung lokal kenapa nggak kita beli. Tapi stoknya kan terbatas, kita butuh kepastian, yang nggak pasti itu yang mahal. Pakai gandum value-nya atau nutrisinya lebih rendah daripada jagung, meski harga hampir sama," ujar dia.
Menurutnya, penggunaan jagung membuat ayam yang dihasilkan juga lebih baik ketimbang gandum.
"Masyarakat kan cenderung lebih suka yang ayam kakinya kuning, warna telurnya kuning, itu asalnya dari makanan jagung yang dimakan. Kalau gandum ayamnya pucat, harga gandum juga sama dengan jagung. Ketika sampai ke kita Rp 3.100/kg sekarang" jelas Sudirman. (wdl/wdl)











































