Impor Daging Ilegal Banyak Terjadi di Perbatasan RI-Malaysia

Impor Daging Ilegal Banyak Terjadi di Perbatasan RI-Malaysia

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 30 Jun 2016 14:05 WIB
Impor Daging Ilegal Banyak Terjadi di Perbatasan RI-Malaysia
Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai semakin memperketat arus barang masuk ke dalam negeri alias impor. Selama 6 bulan pertama tahun ini telah terjadi peningkatan angka impor daging sapi ilegal yang masuk ke Indonesia sebanyak 385,5 ton atau meningkat lebih dari 10 kali lipat dibandingkan tahun 2015 sebesar 23,4 ton.

Pelanggaran impor daging sapi paling banyak terjadi di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia yaitu di Entikong, Kalimantan Barat.

Masuknya daging sapi ilegal dari pintu perbatasan tersebut termasuk paling ramai lantaran dibawa secara individu. Meskipun demikian, dari segi jumlah impor daging sapi ilegal paling banyak terjadi masih di Pelabuhan Tanjung Priok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penindakan bukan cuma di Tanjung Priok, kebanyakan justru terjadi di perbatasan Entikong. Dari sisi frekuensi, paling banyak di sana. Jumlahnya kecil-kecil karena diangkut perorangan untuk konsumsi sehari-hari ini dari Sarawak. Dari sisi jumlah pemasukan terbesar memang ada di Tanjung Priok," jelas Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (30/6/2016).

Peningkatan jumlah impor ilegal ini terjadi akibat beberapa faktor, antara lain kebijakan pemerintah dalam menambah kuota impor daging sapi ke Indonesia. Selain itu, pemeriksaan Bea Cukai terhadap barang impor juga semakin ketat untuk menghindari barang yang tidak diinginkan masuk ke wilayah Indonesia.

"Tahun ini ada dua faktor, faktor pertama kuota yg diberikan lebih dari kuota tahun kemarin. kedua Bea Cukai antisipasi dengan pemeriksaan yang mendalam, yang nggak boleh masuk kita sita," tutur Heru.

Sedangkan asal negara pengimpor daging sapi masih didominasi pemain lama, yaitu Australia dan Selandia Baru.

"Kebanyakan dari Australia dan New Zealand," ujar Heru. (ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads