Korsel sudah mengajukan usulan membangun WFU kepada Food and Agricultute Organization (FAO) sejak 2013, meski proposal secara resmi ia sampaikan pada Oktober 2015. Pembahasan terkait WFU ini sudah berkali-kali. Beberapa kali juga Korsel mengajukan revisi.
Dalam pernyataannya yang dibagikan kepada pers, Korsel menjelaskan pihaknya mengusulkan pendirian WFU agar ada pusat pendidikan khusus tentang perikanan yang berada dalam kerangka kerja FAO yang berkelas internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, untuk membangun perikanan jangka panjang dan berkelanjutan, Korsel memandang perlu membentuk sebuah badan pendidikan sebagai upaya peningkatan kapasitas dan pelatihan sumber daya manusia dalam mengelola perikanan.
Korsel berharap pembentukan WFU bisa disetujui pada 2017, lengkap dengan instrumen hukumnya. Nantinya WFU akan memberikan pendidikan spesialis kepada 100 mahasiswa secara gratis untuk mendapatkan gelar Master dan PhD.
Saat ini, menurut Korsel, telah dilakukan studi kelayakan yang dilakukan tim independen dan hasilnya menyatakan bahwa keberadaan WFU memang sangat penting dan harus ada.
Suasana sidang ke-32 COFI |
Bila memang WFU disetujui sebagai institut internasional dalam kerangka kerja FAO, maka Korea sebagai negara tempat berdomisili WFU, akan membiayai secara penuh operasional universitas ini.
FAO sudah merespons usulan pembentukan WFU ini. Namun, organisasi internasional ini masih mempertanyakan banyak hal, seperti status hukum internasional WFU dan keberlanjutan jangka panjang universitas ini. Karena respons FAO belum memadai, Korsel pun pada Mei 2016 menyampaikan kembali usulan revisi terkait pendirian WFU ini kepada FAO. Dalam salah satu revisi proposalnya, Korean menawarkan dibentuk program kerja sama percontohan yang dikerjakan oleh Korea dan FAO pada 2017-2019.
Di hari pertama sidang ke-32 COFI di Plenarry Hall markas FAO, Viale delle Terme di Caracalla, Roma Senin (11/7/2016), pimpinan sidang sempat menawarkan agar usulan Korea Selatan mengenai pembentukan WFU ini dimasukkan dalam agenda persidangan.
Namun, para peserta sidang mempertanyakan usulan ini dengan alasan bahwa dokumen pembahasan WFU belum dikirimkan kepada peserta atau belum diupload di website FAO. Delegasi Bangladesh menjadi salah satu peserta yang sangat aktif mempersoalkan hal ini.
Perdebatan ini sempat memakan waktu setengah jam lebih, karena pimpinan sidang memberikan kesempatan kepada peserta sidang untuk menyampaikan interupsinya. Beberapa negara seperti Bangladesh, Argentina, Meksiko, Slovakia, Brazil, Kuwait, dan Arab Saudi sempat melakukan interupsi dan mempersoalkan hal ini. Delegasi Korsel sendiri sempat menjelaskan mengenai pentingnya pendirian WFU ini dan meminta kepada negara lain untuk bekerja sama. Namun, akhirnya disetujui bahwa usulan pembentukan WFU dimasukkan agenda sidang.
Delegasi Indonesia sendiri sudah menyampaikan sikapnya mengenai WFU ini saat Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti melakukan pertemuan bilateral dengan delegasi Korsel yang dipimpin Menteri Kelautan dan Perikanan Kim Young-suk pada Selasa (12/7/2016). Dalam pertemuan itu, Kim juga meminta Indonesia mendukung usulan pendirian WFU.
Menteri Susi saat bertemu Menteri Kelautan dan Perikanan Korsel Kim Young Suk (Foto: ASY) |
Indonesia, seperti yang disampaikan Menteri Susi, sebenarnya menyambut baik pendirian WFU asal dibangun juga kerja sama-kerja sama dengan Indonesia. Salah satu contohnya, Indonesia bisa mengirimkan mahasiswa atau peneliti kelautan dan perikanan untuk belajar di universitas ini dan adanya bantuan teknis dalam upaya membangun perikanan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Namun, sepertinya pendirian WFU yang diinginkan Korsel ini belum bisa segera mendapat lampu hijau oleh FAO. Saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Susi Pudjiastuti, Dirjen FAO Joze Graziano da Silva pada Selasa (12/7/2016) sempat memberikan penjelasan sikap FAO terkait WFU. Menurut Joze, FAO kurang setuju dengan usulan Korsel, karena nama FAO tidak bisa dipakai untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang memberikan gelar. FAO hanya bisa melakukan kerjasama dengan lembaga pendidikan di masing-masing negara, bukan mendirikan universitas.
Joze juga menyampaikan bahwa saat ini lembaga PBB hanya memiliki satu universitas yang berada di Tokyo, yaitu United Nation University (UNU). Menurut Joze, kalau memang akan dibangun universitas terkait perikanan, maka WFU bisa didirikan asal terkait dengan UNU, tidak menjadi institusi pendidikan sendiri.
Apakah Korsel mau? Tentu persoalan ini akan menjadi salah satu pembahasan menarik di sidang COFI yang akan berlangsung hingga Jumat (15/7/2016). Korsel juga pasti akan melakukan lobi ke FAO maupun negara-negara lain untuk meminta dukungan.
(asy/ang)












































Suasana sidang ke-32 COFI
Menteri Susi saat bertemu Menteri Kelautan dan Perikanan Korsel Kim Young Suk (Foto: ASY)