Menko Perekonomian Darmin Nasution menanggapi hal tersebut. Menurutnya impor jeroan yang dilakukan oleh Bulog dikarenakan tingginya harga daging sapi menjelang Lebaran yang mencapai Rp 130.000 per kilogram (kg).
Impor jeroan sapi diharapkan dapat memberikan alternatif bagi masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Impor jeroan sapi yang dilakukan sebelum Lebaran juga dilakukan untuk menekan harga daging sapi di pasar agar tidak terjadi lonjakan yang begitu tinggi. Impor jeroan hanya sementara dan tidak dilakukan dalam jangka panjang.
Pemerintah juga berjanji akan fokus untuk mengendalikan harga daging sapi lokal agar masyarakat dapat dengan mudah mengkonsumsi daging sapi segar.
"Tapi lebih murah dengan adanya impor. Cuma kita tidak akan mengumbar impor, tidak usah khawatir. Kita akan kendalikan betul supaya jangan juga kalau nggak kurang, sementara saja," tutur Darmin.
Lewat Karantina
Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Karyanto Suprih menambahkan, impor jeroan itu sifatnya situasional dan telah melalui proses di karantina
"Kan situasional, ada karantina. Dicek, jangan ujug-ujug jeroan langsung masuk. Dilihat syarat-syaratnya dong. Syaratnya itu nanti karantina lah," kata Karyanto.
Menurutnya, aturan impor sifatnya dinamis. Pintu impor bisa kembali ditutup lagi sesuai keadaan.
"Jadi itu kan ketentuan bisa dinamis, kalau memang dibutuhkan yah dibuka. Kalau nggak dibutuhkan ya ditutup," ucap Karyanto. (hns/hns)










































