Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Asnawi, mengungkapkan kebijakan mencabut larangan impor jeroan bisa efektif menurunkan harga jeroan yang ada saat ini. Melimpahnya pasokan jeroan impor, tentu membuat pedagang berpikir untuk menurunkan harga.
"Pasti bisa turun seperti saat impor masih dibuka dulu. Hanya turun tidak siginifikan, jeroan lokal yang lebih mahal daripada jeroan impor. Selisih margin yang diambil pedagang pasti menyesuaikan," kata Asnawi kepada detikFinance, Jumat (15/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, jelas Asnawi, menurunnya pendapatan pedagang dari jeroan yang berkurang akan dibebankan ke harga daging segar yang bakal mengalami kenaikan.
"Karena selama ini bagi pedagang daging sapi, jeroan itu kompensasi. Nilai jeroan bisa turun, tapi dagingnya naik. Dari misalnya saat ini daging Rp 113.000-115.000/kg, bisa naik jadi Rp 118.000/kg, karena pengalihan kompensasi," ucapnya.
Hal yang sama diungkapkan Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Joni Liano. Menurutnya, kebijakan impor jeroan justru akan memicu kenaikan harga daging sapi segar di pasaran. Pasalnya, jeroan menyumbang sekitar 14% dari pendapatan pedagang daging sapi.
Ketika jeroan dari sapi lokal atau feedloter harganya turun di pasaran karena masuknya jeroan impor, maka pedagang melimpahkan kerugiannya dengan menaikkan harga daging sapi segar yang dijualnya.
"Jeroan dari lokal itu kontribusi atau kompensasi pada pembentukan harga daging sapi yakni sebesar 14%. Kalau jeroannya nggak laku, maka pedagang akan naikkan harga dagingnya," terang Joni
Berikut daftar harga jeroan sapi seperti yang dijual di Pasar Jatinegara:
- Babat: Rp 30.000-35.000/kg
- Usus: Rp 30.000-35.000/kg
- Tetelan: Rp 50.000/kg
- Paru: Rp 70.000-80.000/kg
- Limpa: Rp 80.000/kg
- Hati: Rp 80.000/kg











































