Pasar oligopoli ini yang membuat tata niaga daging sapi kurang sehat.
"Kalau dari pemeriksaan dulu, dari 32 feedloter itu kepemilikannya kurang dari 10 pemilik terafiliasi. Kemudian mengerucut lagi hanya 5 perusahaan yang benar-benar menguasai pasar," kata Syarkawi kepada detikFinance, Jumat (15/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Polanya, banyak perusahaan tapi ownernya sama, atau beda perusahaan tapi pemiliknya masih satu keluarga. Perusahaan A punya ayahnya, perusahaan B punya anaknya," ujar Syarkawi.
"Kemudian ketiga perusahaan berbeda tapi pakai fasilitas kadang yang sama, karena perusahaan masih satu grup afiliasi. Terakhir beda-beda perusahaan, pemiliknya beda orang, tapi pemodalnya dari orang yang sama," tambahnya.
Pola oligopoli ini, kata Syarkawi, membuat kuota impor yang diberikan pemerintah akhirnya tidak fair lantaran sejumlah feedloter mendapat kuota yang besar, dengan menggunakan perusahaan afiliasinya atau pola lain yang dijelaskannya tersebut.
"Harusnya pemerintah dalam memberikan kuota impor harus di cek betul cross ownership-nya ini. Jangan sampai kasih saja ke banyak perusahaan feedloter, padahal orangnya sama. Ujungnya pasar dikuasai segelintir saja, susah harga sapi turun kalau mengandalkan pasar seperti ini," ungkap Syarkawi. (hns/hns)











































