Neraca Perdagangan Juni Surplus, BI: Harga Komoditas Naik dan Impor Rendah

Neraca Perdagangan Juni Surplus, BI: Harga Komoditas Naik dan Impor Rendah

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Jumat, 15 Jul 2016 16:06 WIB
Neraca Perdagangan Juni Surplus, BI: Harga Komoditas Naik dan Impor Rendah
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) padi tadi merilis Neraca Perdagangan Indonesia pada Juni 2016 mengalami surplus sebesar US$ 900,2 juta. Ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 12,92 miliar lebih besar dibandingkan dengan impor yang hanya US$ 12,02 miliar.

Deputi Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menyebutkan bahwa surplus perdagangan yang terjadi pada bulan Juni dikarenakan meningkatnya harga komoditas utama yang diekspor Indonesia ke luar negeri.

Beberapa harga komoditas unggulan yang rutin diekspor seperti kelapa sawit, batu bara, dan karet mengalami peningkatan harga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya rasa ada dua fenomena yang sekarang kita sedang cermati adalah harga komoditi yang memang kalau kita lihat harga apakah itu kelapa sawit, apakah itu karet, apakah itu batu bara itu memang year to datenya itu naik. Year to date itu berarti dari Januari sampai ke kinerja terakhir yang ada, memang naik, gitu ya," tutur Mirza di Kompleks BI, Jakarta Pusat, Jumat (15/7/2016).

Pihaknya menambahkan bahwa sesungguhnya harga komoditas pada kuartal II 2016 mengalami sedikit penurunan dibandingkan kuartal I 2016. Perbaikan harga komoditas yang rutin diekspor Indonesia belum sepenuhnya kembali pulih.

"Jadi kalau kita bilang apakah sudah ada recovery dari komoditi tambang perkebunan dan minyak sebenarnya, menurut saya sih, belum terlalu signifikan, gitu ya," jelas Mirza.

Impor, lanjut Mirza, yang dilakukan Indonesia selama satu bulan terakhir juga terbilang masih rendah. Hal ini yang kemudian membuat neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 900,2 juta.

"Dan memang juga impor masih relatif lemah. Jadi memang itu yang kemudian membuat surplus di neraca perdagangan," ujar Mirza.

Bantu Kurangi Defisit Neraca Berjalan

Neraca Perdagangan Indonesia bulan Juni 2016 mengalami surplus sebesar US$ 900,2 juta. Dengan terjadinya surplus ini dipastikan dapat membantu kinerja Current Account Deficit (CAD) atau defisit neraca berjalan.

"Surplus neraca perdagangan tentu membantu kinerja Current Account Deficit karena kan CAD adalah neraca perdagangan ditambah neraca jasa. Jadi neraca barang dan jasa kita atau current account itu di kuartal I, kuartal II ini memang kalau menurut kami, relatif sama lah," kata Mirza.

Current Account Deficit (CAD) Indonesia saat ini tercatat di kisaran 2,2% hingga 2,4% dari total PDB Indonesia. Besaran CAD tersebut berada di kisaran yang cukup bqik untuk perekonomian Indonesia. Kondisi ekonomi Indonesia yang tengah dalam kondisi baik ini dapat menarik minat lebih banyak investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

"Jadi memang bisa dibilang di semester I ini current account deficit situasi yang bagi Bank Indonesia comfortable, level sekitar antara 2,2 sampai 2,4% dari PDB gitu ya. Jadi suatu level yang sehat dan itu juga menunjang optimisme dari para investor di pasar keuangan terhadap kinerja dari makro ekonomi Indonesia," jelas Mirza.

Mirza pun mengatakan bahwa besaran inflasi di Indonesia masih cukup terkendali. Besaran inflasi di bulan Juli diperkirakan masih mengalami peningkatan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah konsumsi saat puasa dan Lebaran.

"Awal Juli kan, the first week of July itu masih periode puasa memang angka (inflasi) kan lebih tinggi dibandingkan periode Juni," tutur Mirza.

Peningkatan inflasi diperkirakan hanya terjadi hingga minggu kedua Juli karena efek Lebaran. Pada minggu ketiga dan keempat, besaean inflasi diperkirakan masih cukup stabil.

"Jadi setelah Lebaran itu kan periode minggu kedua, minggu ketiga Juli itu periode inflasinya menurun. Saya rasa tidak bisa kita ambil patokan angka awal minggu pertama Juli untuk melihat inflasi keseluruhan bulan Juli," tutup Mirza. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads