Deputi Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menyebutkan bahwa surplus perdagangan yang terjadi pada bulan Juni dikarenakan meningkatnya harga komoditas utama yang diekspor Indonesia ke luar negeri.
Beberapa harga komoditas unggulan yang rutin diekspor seperti kelapa sawit, batu bara, dan karet mengalami peningkatan harga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya menambahkan bahwa sesungguhnya harga komoditas pada kuartal II 2016 mengalami sedikit penurunan dibandingkan kuartal I 2016. Perbaikan harga komoditas yang rutin diekspor Indonesia belum sepenuhnya kembali pulih.
"Jadi kalau kita bilang apakah sudah ada recovery dari komoditi tambang perkebunan dan minyak sebenarnya, menurut saya sih, belum terlalu signifikan, gitu ya," jelas Mirza.
Impor, lanjut Mirza, yang dilakukan Indonesia selama satu bulan terakhir juga terbilang masih rendah. Hal ini yang kemudian membuat neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 900,2 juta.
"Dan memang juga impor masih relatif lemah. Jadi memang itu yang kemudian membuat surplus di neraca perdagangan," ujar Mirza.
Bantu Kurangi Defisit Neraca Berjalan
Neraca Perdagangan Indonesia bulan Juni 2016 mengalami surplus sebesar US$ 900,2 juta. Dengan terjadinya surplus ini dipastikan dapat membantu kinerja Current Account Deficit (CAD) atau defisit neraca berjalan.
"Surplus neraca perdagangan tentu membantu kinerja Current Account Deficit karena kan CAD adalah neraca perdagangan ditambah neraca jasa. Jadi neraca barang dan jasa kita atau current account itu di kuartal I, kuartal II ini memang kalau menurut kami, relatif sama lah," kata Mirza.
Current Account Deficit (CAD) Indonesia saat ini tercatat di kisaran 2,2% hingga 2,4% dari total PDB Indonesia. Besaran CAD tersebut berada di kisaran yang cukup bqik untuk perekonomian Indonesia. Kondisi ekonomi Indonesia yang tengah dalam kondisi baik ini dapat menarik minat lebih banyak investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
"Jadi memang bisa dibilang di semester I ini current account deficit situasi yang bagi Bank Indonesia comfortable, level sekitar antara 2,2 sampai 2,4% dari PDB gitu ya. Jadi suatu level yang sehat dan itu juga menunjang optimisme dari para investor di pasar keuangan terhadap kinerja dari makro ekonomi Indonesia," jelas Mirza.
Mirza pun mengatakan bahwa besaran inflasi di Indonesia masih cukup terkendali. Besaran inflasi di bulan Juli diperkirakan masih mengalami peningkatan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah konsumsi saat puasa dan Lebaran.
"Awal Juli kan, the first week of July itu masih periode puasa memang angka (inflasi) kan lebih tinggi dibandingkan periode Juni," tutur Mirza.
Peningkatan inflasi diperkirakan hanya terjadi hingga minggu kedua Juli karena efek Lebaran. Pada minggu ketiga dan keempat, besaean inflasi diperkirakan masih cukup stabil.
"Jadi setelah Lebaran itu kan periode minggu kedua, minggu ketiga Juli itu periode inflasinya menurun. Saya rasa tidak bisa kita ambil patokan angka awal minggu pertama Juli untuk melihat inflasi keseluruhan bulan Juli," tutup Mirza. (ang/ang)











































