Di sela-sela kunjungan kerjanya ke Jawa Timur, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun menjelaskankebijakan ini adalah bagian dari rencana pemerintah untuk menekan harga daging, dengan melakukan intervensi pasar sehingga nantinya terbentuk suatu struktur pasar yang sehat.
Saat ini tersedia berbagai opsi pada masyarakat. Mulai dari daging sapi segar lokal yang harganya berkisar Rp 120.000-140.000, daging sapi beku seharga Rp 80.000-100.000, hingga jeroan sapi yang menjadi opsi sumber protein di masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sapi Australia. Ada dua. Ini (sapi pertama) masuk ke indonesia dalam bentuk bakalan. Dia bawa perutnya kan? Kan hidup-hidup nih. Dia bawa empedunya masuk. Ini tinggal di Australia. Ini masuk, empat bulan baru kita potong. Umurnya 3-4 tahun. Ini (sapi kedua) dipotong di Australia. Ambil jeroannya, masuk. Apa bedanya?," tambahnya.
Ia pun berujar, impor jeroan saat ini adalah bagian dari rencana jangka pendek untuk menstabilkan harga daging dan memenuhi sumber protein masyarakat. Amran mengatakan jumlah jeroan yang diimpor tidak lebih besar dari jumlah impor daging sapi beku.
Namun ia menolak untuk mengatakan jumlah persis jeroan yang diimpor.
"Kecil sekali, maksimal 10 persen. Bisa-bisa 2%. Tapi secondary cut aku guyur ke pasar, sampai harga bisa masyarakat nikmati. Kalau jeroan nggak usah bahas, kecil sekali," tuturnya.
Kritik Feedloter
Amran juga mengkritik feedloter (perusahaan penggemukan) yang dianggap telah jauh dari tujuannya dalam mendukung rantai distribusi daging sapi di Indonesia. Menurut Amran, tujuan adanya feedloter adalah untuk mendukung tersedianya daging dengan harga terjangkau bagi.
Namun, menurut Amran, feedloter belum mendukung penyediaan daging dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
"Ide awalnya ada feedlot di Indonesia adalah supaya ada harga murah dan tenaga kerja. Sehingga digemukkan di Indonesia, karena pakannya murah di Indonesia. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sapi siap potong harganya Rp 27.000/kg, bahkan ada yang Rp 25.000/kg. Harga sapi bakalan Rp 43.000/kg. Ini terbalik yang terjadi. Kita datangkan supaya semua rakyat ini membeli murah dan gizi terpenuhi," ungkapnya.
"Jadi pemahamannya dulu, sebenarnya apa sih gunanya feedlot dulu. Jadi kita melakukan sesuatu untuk mendapatkan value. Nah ini penurunan. Ini harus dibongkar," lanjutnya
Amran meminta pihak feedloter menyesuaikan diri dengan tujuan pemerintah untuk menyediakan daging dengan harga terjangkau. Ia menambahkan, selama ini masyarakat menganggap daging beku (frozen meat) tidak segar dibandingkan daging dari sapi yang dipotong pada hari yang sama.
"Ini daging segar, ini daging frozen (beku). Yang mana yang harusnya lebih segar? Frozen. Karena ada processing, ada penyimpanan, pembekuan, sterilisasi, dst. Segar belum tentu sehat. Begitu dipotong, kena virus bisa kena kan. Ini tidak ada processing, harusnya lebih murah kan, dan sumbernya sama. Ini dibalik-balik ini. Di situlah hebatnya uang," pungkasnya. (hns/hns)











































