Dari hasil pantauan detikFinance di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, tidak banyak pedagang menjual jeroan sapi. Mereka mengatakan, konsumsi jeroan sesudah Lebaran memang menurun.
Salah seorang pedagang bernama Uyung mengaku, sebelum Lebaran dirinya bisa menjual jeroan sapi hingga 50 kilogram dalam sehari, namun saat ini hanya menjual 5 kilogram dalam sehari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jeroan yang dijual terdiri dari usus, babat, limpa, paru dan hati. Harga dari tiap jenis jeroan ini juga berbeda. Usus dijual dengan harga Rp 40.000/kg, sementara yang babat hitam Rp 40.000/kg, babat putih Rp 60.000/kg, Limpa Rp 60.000/kg, Hati Rp 60.000/kg dan Paru Rp 80.000/kg.
Jeroan sapi yang dijual oleh sejumlah pedagang pun seluruhnya berasal dari sapi lokal. Tidak ada yang memasok jeroan impor karena diragukan kualitasnya.
"Yang lokal saja jualnya susah, gimana yang impor. Impor juga susah jualnya karena masyarakat nggak tahu kualitasnya. Kalau yang lokal kan fresh," kata Uyung.
Dari lima pedagang yang ditemui, semuanya kompak mengatakan bahwa penjualan jeroan sapi mengalami penurunan. Importasi jeroan pun dinilai kurang tepat pelaksanannya.
"Nggak usah impor deh. Jual yang lokal saja sekarang susah. Konsumen juga kalau yang nggak hangat susah belinya. Lagian di sini yang beli kalangan elit yang banyak, nggak suka jeroan," ucap pedagang lainnya bernama Hari di lokasi yang sama. (drk/drk)











































