Mentan: Harga Jeroan Sapi Idealnya Rp 30.000/Kg

Mentan: Harga Jeroan Sapi Idealnya Rp 30.000/Kg

Muhammad Idris - detikFinance
Minggu, 17 Jul 2016 17:11 WIB
Mentan: Harga Jeroan Sapi Idealnya Rp 30.000/Kg
Foto: Ari Saputra
Surabaya - Awal 2015, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menutup impor jeroan sapi dan kemudian dibuka kembali untuk menstabilkan harga jeroan sapi yang melambung hingga Rp 90.000 per kg. Idealnya, harga jeroan sapi di kisaran Rp 30.000/kg.

Amran mengakui pernah menyatakan bahwa jeroan sapi sebagai 'makanan anjing' diikuti langkah menutup keran impor, namun kini pemerintah membuka peluang impor untuk kepentingan rakyat kecil mendapatkan opsi protein dengan harga terjangkau.

"Dulu ditutup impornya bahkan kami statement keras bahwa itu makanan anjing, kemudian kita buka tahun ini," kata Amran, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (15/7/2016) menjawab kritik sejumlah pihak terkait kebijakan impor jeroan sapi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan, kebijakan tersebut secara utuh demi kepentingan rakyat dan bangsa, terkait revisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 58/2015 yang melarang impor jeroan sapi.

"Pemerintah membuat semua regulasi tentunya untuk kepentingan rakyat. Pemerintah itu pelayan masyarakat," kata Amran.

Amran menegaskan, regulasi ini untuk kepentingan rakyat bukan individu dan bukan untuk golongan.

"Kami tangani lonjakan harga daging sapi yang melambung ke Rp 120.000 hingga Rp 140.000 per kg, apakah kita biarkan rakyat menderita?" kata Amran.

Dia menambahkan, harga jeroan sapi di luar negeri hanya US$1 atau Rp 13.000 per kg atau naik 800%, dan pemerintah harus membuka peluang impor jeroan sapi untuk melakukan stabilisasi harga agar terjangkau konsumen.

"Harga jeroan sapi sudah menyentuh Rp 90.000 per kg padahal harganya di luar negeri cuma satu dolar AS atau Rp 13 ribuan per kg, itu berarti naik 800 persen, itulah yang melatarbelakangi pemerintah melalui Kementan untuk merevisi Permentan, dengan mencari solusi melalui regulasi agar opsi pemenuhan kebutuhan protein rakyat dapat terpenuhi dengan harga terjangkau," katanya.

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla menempuh langkah strategis untuk mengatasi hal itu melalui perubahan regulasi dengan menyusun aturan yang dapat menekan lonjakan harga dengan merevisi Permentan No 58/2015 yang melarang impor jeroan sapi.

Dampak Pakan Ternak

Harga jeroan sapi idealnya maksimal Rp 30.000-an per kg, sementara saat ini di kisaran Rp 90.000 per kg yang tentunya sangat membebani konsumen khususnya rakyat kecil, dan itu dilakukan pemerintah ketika berupaya menstabilkan harga daging sapi yang melambung hingga Rp 120.000 per kg dengan membuka impor daging sapi beku dari Australia sehingga konsumen dapat membeli daging sapi dengan harga di bawah Rp 80.000 sesuai harapan Presiden Joko Widodo.

"Kalau harga turun 30% sampai 50% tentu rakyat senang, regulasi direvisi untuk kepentingan rakyat," kata Amran.

Dia tidak menampik upaya sejumlah pihak mengkritisi pemerintah, yang melempar isu tentang penyakit hewan dan lemak jeroan sapi yang dapat memicu kanker lantaran dampak dari pakan ternak yang dikenal sebagai Betagonis, namun hal itu tidak menyurutkan langkah pemerintah mengingat kemajuan teknologi khususnya di bidang veterinary (kesehatan hewan).

"Setelah regulasi direvisi, ada lagi isu hormon lalu penyakit hewan, saya tegaskan sapi potong dan sapi bakalan sumbernya sama dari Australia dan sebelum masuk Indonesia diperiksa dulu kesehatan ternak yang diimpor," kata Mentan.

Menurutnya, impor jeroan saat ini adalah bagian dari rencana jangka pendek untuk menstabilkan harga daging sapi dan memenuhi sumber protein masyarakat, dan jumlah jeroan sapi yang diimpor tidak lebih besar dari jumlah impor daging sapi beku.

"Bisa saja bulan depan Permentan direvisi lagi sesuai permintaan rakyat misalnya harga jeroan sapi jatuh sampai di bawah satu dolar AS, maka kita tarik lagi, ubah lagi peraturannya," katanya. (drk/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads