Menurut Amran, banyak kalangan menilai dirinya tidak konsisten dengan regulasi yang dibuatnya sendiri. Padahal menurutnya, perubahan aturan, mutlak diperlukan sesuai kondisi dan kebutuhan rakyat.
"Siapa bilang saya nggak konsisten. Menteri melayani rakyat, bukan pengusaha. Memang banyak nggak suka, siapa yang nggak senang yah yang selama dapat keuntungan besar," ucapnya, di kantor Gubernur Banten, Serang, Selasa (19/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menteri layani rakyat, bukan kepada pengusaha. Jangan dianggap tidak konsisten karena kalimat, UU saja bisa diamandemen, artinya (perubahan kebijakan) harus tetap kepada kepentingan rakyat dan ideologi, bukan kalimat," tegas menteri asal Bone, Sulawesi Selatan.
Dia mencontohkan, untuk kebijakan pembukaan impor jeroan, kondisi tahun lalu berbeda dengan saat sekarang. Seperti halnya impor daging sapi beku yang sebelumnya ditentang habis, malah banyak peminatnya dan cukup membantu saat permintaan daging melonjak saat Ramadan.
"Kenapa sekarang impor (jeroan) tahun lalu nggak? Regulasi buat rakyat. Ditahan karena ada kepentingan rakyat lebih besar, sementara sekarang kebutuhannya besar," ujar Amran.
"Daging frozen (beku) saya buka ternyata banyak yang suka. Kalau nggak suka jangan seolah mewakili lidah orang lain, bulan Ramadan lalu habis daging beku antre sampai 5.000 orang di Pasar Minggu. Konsumsi daging beku disukai dari bintang film sampai gubernur. Malah dari middle dan high class. Jangan suka dibolak-balik," tambahnya. (wdl/wdl)
