Utang Luar Negeri RI Naik 3,7% Jadi US$ 314 Miliar

Utang Luar Negeri RI Naik 3,7% Jadi US$ 314 Miliar

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 19 Jul 2016 18:25 WIB
Utang Luar Negeri RI Naik 3,7% Jadi US$ 314 Miliar
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2016 tercatat sebesar US$ 314,3 miliar atau tumbuh 3,7% (year on year). Berdasarkan jangka waktu asal, ULN berjangka panjang tumbuh melambat, sementara ULN berjangka pendek masih mengalami penurunan. Berdasarkan kelompok peminjam, ULN sektor publik tumbuh melambat, sedangkan ULN sektor swasta masih mengalami penurunan.

Demikian disampaikan Bank Indonesia (BI) dalam keterangan resminya seperti dikutip detikFinance, Selasa (19/7/2016).

Berdasarkan jangka waktu asal, posisi ULN Indonesia didominasi oleh ULN berjangka panjang. ULN berjangka panjang pada Mei 2016 mencapai US$ 275,5 miliar (87,6% dari total ULN) atau tumbuh 6,0% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan April 2016 yang sebesar 8,3% (yoy).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, ULN berjangka pendek pada Mei 2016 tercatat sebesar US$ 38,8 miliar (12,4% dari total ULN) atau turun 10,1% (yoy), lebih dalam dari penurunan April 2016 sebesar 6,2% (yoy).

Berdasarkan kelompok peminjam, posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri dari ULN sektor swasta. Pada akhir Mei 2016, posisi ULN sektor swasta tercatat sebesar US$ 163,6 miliar (52,1% dari total ULN), sedangkan posisi ULN sektor publik sebesar US$ 150,7 miliar (47,9% dari total ULN).

ULN sektor swasta masih mengalami penurunan 3,5% (yoy) pada Mei 2016 setelah pada bulan sebelumnya turun 1,2% (yoy), sementara ULN sektor publik tumbuh 12,8% (yoy) atau melambat dari bulan sebelumnya sebesar 15,7% (yoy).

Menurut sektor ekonomi, ULN swasta pada akhir Mei 2016 terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih.

Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,2%. Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas dan air bersih tercatat melambat. Sementara itu, pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan dan sektor keuangan mengalami kontraksi yang lebih dalam.

BI memandang perkembangan ULN Mei 2016 masih cukup sehat namun terus mewaspadai risikonya terhadap perekonomian. Ke depan, BI akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta.

Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas makro ekonomi. (drk/feb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads