Dengan aturan yang ada saat ini, impor sapi hidup hanya mengizinkan sapi bakalan yang kemudian digemukkan oleh feedloter, setidaknya dalam 3 bulan.
Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, mengatakan tujuan awal larangan impor sapi siap potong untuk membuat harga daging sapi bisa lebih murah ketimbang membelinya langsung sapi tua dari Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ide awal kenapa harus ada feedloter karena agar harga daging sapi bisa lebih murah. Sehingga, protein tersedia buat rakyat kecil karena pakan (sapi) dalam negeri sangatlah murah," jelas Amran, di Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (19/7/2016).
Menurut Amran, melimpahnya sumber pakan murah seperti jerami padi, bungkil sawit, dan rumput hijauan di dalam negeri membuat feedloter seharusnya bisa memproduksi daging lebih murah dibanding peternakan di Australia.
"Yang terjadi apa? Malah sebaliknya, harga daging (sapi hidup) di Australia Rp 27.000/kg, di feedloter malah jauh lebih mahal Rp 43.000/kg," ujarnya.
Dari hitung-hitungannya, daging sapi segar yang yang berasal dari feedloter bisa lebih murah, atau setidaknya sama murahnya dengan daging sapi beku asal Negeri Kanguru tersebut.
"Harusnya kan frozen (daging beku) lebih mahal dari daging segar karena ada processing, ada pengangkutan, dan lainnya. Loh ini yang terjadi frozen malah hanya Rp 70.000/kg," ungkap Amran. (wdl/wdl)











































