Penerbangan Internasional di Bandara Soetta Tertinggal dari Changi

Penerbangan Internasional di Bandara Soetta Tertinggal dari Changi

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 21 Jul 2016 18:05 WIB
Penerbangan Internasional di Bandara Soetta Tertinggal dari Changi
Foto: Dikhy Sasra
Jambi - Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang merupakan bandara dengan kepadatan penerbangan yang paling tinggi di Indonesia.

Tercatat, saat ini frekuensi penerbangan di Bandara Soetta sebanyak 72 kali per jam. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari penerbangan domestik dan internasional.

Akibat padatnya lalu-lintas pesawat, bandara di bawah PT Angkasa Pura II (Persero) (AP II) kesulitan melayani penambahan penerbangan internasional atau melayani penerbangan transit rute internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ujung-ujungnya, bandara tersibuk di Indonesia itu kalah dalam jumlah penerbangan internasional daripada Bandara Changi Singapura.

"Negara sebesar ini kita hanya menuju 35 titik di seluruh dunia, Singapura lebih dari 100. Kalau ruang udara di Soekarno-Hatta lebih cair lebih kosong maka katakanlah ke Bangladesh, ke Myanmar, ke Papua Nugini bisa dari kita. Nggak usah dari Singapura," ujar Direktur Utama AP II, Budi Karya Sumadi di Bandara Sultan Thaha, Jambi, Kamis (21/7/2016).

Padatnya pergerakan pesawat yang take off dan landing Bandara Soetta sebetulnya bisa 'dipangkas', selain dengan cara membangun runway baru. Menurutnya, penerbangan domestik seharusnya bisa langsung point to point alias penerbangan langsung antar kota tanpa perlu transit.

Budi mengambil contoh, bila peningkatan kapasitas airside dan landside bandara-bandara di daerah seperti Bandara Sultan Thaha, Jambi berjalan pesat maka penerbangan transit rute domestik bisa dikurangi. Alhasil, 'jatah' penerbangan internasional bisa dinaikkan.

"Apabila Kerinci (Bandara Depati Parbo) dan Muara Bungo bagus dan banyak penumpang yang kita terbangkan ke Yogyakarta, Bandung atau ke mana. Maka yang tadinya 72 (pergerakan pesawat di Bandara Soetta per jam) bisa turun menjadi, mungkin Jambi berkurang 2 (penerbangan), Kualanamu berkurang 2. Kalau 10 bandara berkurang 2 ada 20 pergerakan, banyak sekali," jelas Budi (feb/feb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads