Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA), Kamenterian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), Mudjiadi mengatakan, capaian ini merupakan hasil percepatan yang dilakukan kontraktor di lapangan. Mereka bekerja non stop selama 24 jam, terbagi dalam 43 shift.
"Kita percepat. Alatnya ditambah, shift kerja juga ditambah dari 2 shift jadi 3 shift," kata Mudjiadi ditemui detikFinance di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (22/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kita ada terobosan baru. Kalau tadinya kan kerjaan C tunggu kerjaan B selesai. Kerjaan B tunggu kerjaan A selesai. kalau sekarang semua simultan kita kerjakan barengan. Yang penting pondasi sudah, pekerjaan sisanya kita kerjakan barengan semua jadi lebih cepat," papar Mudjiadi.
Pekerjaan yang saat ini dilakukan, lanjut Mudjiadi, meliputi pembuatan spillway atau saluran pelimpah yang berfungsi menjaga tinggi muka air agar tidak melebihi tinggi bibir bendungan.
Lalu ada pekerjaan pembangunan tubuh bendungan itu sendiri baik yang berada pada bagian utama maupun di sisi bendungan.
"Semua pekerjaannya simultan," tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Pusat Bendungan Imam Santoso, mengatakan, target penyelesaian pembangunan bendungan bisa maju 2 tahun dengan kerja cepat.
"Target kita selesai tahun 2019. Tapi melihat perkembangannya target kami maju, Desember 2017 selesai," tegas Imam.
Bendungan Raknamo dibangun di aliran Sungai Noel Puamas, Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefete, Kabupaten Kupang, NTT. Kontraktor pelaksana pembangunan bendungan ini adalah PT Waskita Karya Tbk dengan nilai proyek Rp 782 miliar. (dna/feb)










































