Di tengah perjalanan, Amran sempat singgah ke Pasar Sentral di kota tersebut. Tujuannya, untuk memastikan harga sejumlah barang kebutuhan pokok di Medan stabil.
Amran menyambangi salah satu pedagang bumbu dapur di pasar yang terletak di Jalan MT Haryono tersebut. Menteri asal Bone, Sulawesi Selatan ini kemudian bertanya harga bawang pada salah seorang pedagang, Zubaidah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang menarik tadi saya temukan, ada satu tempat bawang merah kok ada yang harga sekilonya Rp 13.000, ada yang Rp 17.000, ada harga yang Rp 34.000. Oleh pedagang itu katanya dipisah-pisah, dibersihkan," kata Amran kepada wartawan di Pasar Sentral Medan, Senin (25/7/2016).
detikFinance kemudian mendatangi si pedagang bawang merah, Zubaidah yang sebelumnya didatangi Amran. Menurutnya, harga bawang yang jauh berbeda lantaran kualitas komoditas bumbu tersebut berbeda varietas dan kualitas.
"Tadi ditanya Menteri. Ya saya jawab bedalah, lah jenisnya beda, ini yang mahal bawang dari Simalungun, rasanya lebih terasa, bentuknya juga beda, makanya harga beda. Kalau yang murah bawang impor yang Rp 17.000/kg. Gede-gede tapi rasanya jelek," terang Zubaidah.
Selain itu, Amran juga mengecek harga beras. Menurutnya, harga beras tak seharusnya berbeda jauh dengan tolak ukur kualitas pecahan pipilan beras.
"Ini beras Rp 9.000/kg, tapi sebelahnya Rp 10.000/kg, katanya yang mahal agak bersih dan broken (pecahan) dijualnya Rp 7.500-8.000/kg. Semakin pecah semakin murah, padahal kita kan butuh karbohidratnya, bukan soal broken-nya. Semua beras yang ditanam di Indonesia kan setara IR-64. Kok harga beda," terang Amran. (hns/hns)











































