"Kami masih lebih konservatif dalam melihat perekonomian Indonesia masih stuck di 5% atau sedikit di bawah 5%. Sedikit lebih baik dari tahun lalu," ungkap Anton dalam seminar perekonomian terkini di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (25/7/2016).
Akan tetapi, capaian 5% bukanlah sesuatu yang buruk di saat perekonomian global masih menunjukkan perlambatan. Tidak banyak negara yang mampu tumbuh sampai pada level 5%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan komponennya, konsumsi rumah tangga utama masih jadi penopang pertumbuhan ekonomi. Konsumsi juga ditopang oleh pengendalian inflasi oleh Bank Indonesia (BI) dan pemerintah.
Berbagai kebijakan pemerintah juga mampu meningkatkan konsumsi. Misalnya kenaikan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dan lainnya.
Sedangkan investasi dari pemerintah dan swasta masih cenderung lambat.
"Investment diharapkan triger-nya dari goverment spending terutama goverment investment yang nantinya akan ada memicu swasta," papar Anton.
Ekspor diperkirakan masih akan kontraksi. Beberapa bulan terakhir memang ada kenaikan harga komoditas, khususnya batu bara, crude palm oil (CPO) serta kelompok mineral lainnya. Akan tetapi, menurut Anton, kenaikannya tidak signifikan dan belum mampu mendorong lonjakan ekspor.
"Komoditi prices ada rebound tetapi tidak terlalu banyak yang bisa dijadikan tumpuan," terang Anton.
Pada sisi ekstrernal, pemerintah dianggap juga harus mewaspadai dampak lanjutan dari Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan China merupakan wilayah yang terdampak langsung oleh hal tersebut.
Anton menilai, bila negara-negara tersebut makin terpuruk, maka akan berdampak terhadap Indonesia.
"Ini kan secara pelan juga akan berdampak terhadap Indonesia," tukasnya. (mkl/drk)











































