"Feedloter ini kan kita bangun agar masyarakat dapat protein dengan harga rendah. Yang terjadi kenapa ini malah sebaliknya," kata Amran saat panen padi di Desa Cinta Damai, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Senin (25/7/2016).
Dia menuturkan, harga pakan dan tenaga kerja yang lebih seharusnya bisa membuat harga daging sapi yang dijual feedloter, bisa lebih murah dibandingkan dengan sapi siap potong yang didatangkan dari Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sapi yang dijual feedloter harganya (bobot hidup) Rp 43.000/kg. Sementara kalau sapi potong dari luar negeri yang masuk sampai ke sini Rp 27.000/kg," tambahnya.
Kondisi itulah, sambungnya, yang mendorong dirinya merasa perlu untuk merevisi UU Nomor 41 Tahun 2014 yang melarang impor sapi siap potong.
"Ini yang mau saya minta revisi UU 41 Tahun 2014 (UU Peternakan dan Kesehatan Hewan). Masa selisih harganya jauh sekali, bakalan dagingnya di sini Rp 120.000/kg. Kemudian yang siap potong masuk sini harganya bisa Rp 70.000/kg. Selisih Rp 50.000/kg itu jadi beban rakyat," tandas Amran. (hns/hns)











































