Forum ini akan membahas tantangan masa depan yang dihadapi ASEAN di empat tahapan pembangunan proyek infrastruktur, yaitu: perencanaan, pembiayaan, pembangunan, dan pengoperasian.
"Tujuan kami adalah mendukung agenda infrastruktur pemerintah Indonesia serta kawasan ASEAN yang Iebih Iuas. Kami ingin mendorong terciptanya hubungan strategis dan memberikan kesempatan kerja sama bisnis bagi pemerintah pusat maupun daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta perusahaan pengembang swasta terkemuka di bidang teknologi dan jasa, bersama dengan para investor global yang diundang dalam forum ini," kata Rosan P. Roeslani, Kadin Indonesia, di BKPM, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (1/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia merepresentasikan sepertiga dari anggaran infrastruktur ASEAN yang telah diajukan, maka sudah sewajarnya Indonesia menciptakan sebuah wadah bagi pemerintah dan sektor swasta agar dapat menyamakan visi, membangun kemitraan dan mengeksplorasi cara-cara nyata yang dapat mendukung Master Plan for ASEAN Connectivity 2025 seraya memberikan kesempatan untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia," Rosan menjelaskan Iebih Ianjut.
Sebagai dukungan terhadap forum ini, Ketua BKPM Thomas Lembong menyatakan, Investasi infrastruktur saat ini merupakan fokus utama dari pemerintah Indonesia untuk mempercepat agenda pembangunan nasional sebagai gerbang utama bagi pebisnis dengan pemerintah.
"Betapa pentingnya pembangunan infrastruktur. Landasan utama pengembangan dan reformasi perekonomian. Ini bagus sekali dari Kadin untuk mensinergikan pembangunan infrastruktur di Indonesia dengan Master Plan for ASEAN Connectivity 2025. Memasuki era MEA, integrasi perekonomian dan perdagangan serta investasi sangat penting. Konektivitas intra ASEAN menjadi sangat penting. BKPM mendukung sepenuhnya, terutama untuk mencarikan dan memfasilitasi investor-investor di bidang infrastruktur," kata Tom Lembong.
Sesuai arahan Presiden Jokowi, Tom mengatakan saat ini pihak swasta diberikan selebar-lebarnya kesempatan untuk melakukan investasi terkait pembangunan infrastruktur. Menurutnya, forum ini yang akan mempertemukan beberapa investor global sehingga terbentuk jaringan.
"Presiden juga menekankan, penting banget buka lebar-lebar ke swasta. Pertama tawarkan swasta, kalau swasta nggak mau, BUMN baru APBN. Saya apresiasi Kadin untuk bantu organisir untuk membuka networking antara pemerintah, BUMN, swasta baik lokal, regional, internasional. Kita butuh investor dari luar negeri dan kita menghimbau adanya transfer teknologi dan kapasitas bagi pelaku-pelaku domestik," ujar pria yang akrab disapa Tom Lembong.
Tom Lembong juga menyoroti tiga prioritas utama pada sektor infrastruktur. Pertama berupa 226 proyek strategis nasional, kedua terkait proyek-proyek pembangkit listrik dan ketiga mengenai pengendalian limbah dari proyek-proyek energi.
"BKPM tentu akan memfasilitasi dan terus memberikan bantuan bagi investor, terutama dalam menyalurkan minat investasi di sektor infrastruktur," ujar mantan Menteri Perdagangan itu.
Untuk mencapai tujuan tersebut, di dalam Master Plan for ASEAN Connectivity (MPAC), Wakil Tetap Republik lndonesia untuk ASEAN, Rahmat Pramono mengatakan banyak proyek-proyek yang dimasukkan ke dalam master plan itu, misalnya proyek maritim.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia mengedepankan pengembangan dan pengelolaan pelabuhan-pelabuhan. Selain itu, di darat pemerintah membangun jalan tol seperti Tol Trans Sumatera. Banyaknya rencana proyek tersebut, ia merasa penting agar master plan ini dijelaskan ke publik karena melihat peluang pembangunan infrastruktur di ASEAN.
"Master Plan for ASEAN Connectivity (MPAC) 2025 dijadwalkan untuk disahkan oleh para Kepala Negara ASEAN pada September 2016, hanya dua bulan sebelum acara tahunan lndonesia infrastructure Week yang merupakan pertemuan para pemimpin bidang infrastruktur di sektor swasta terbesar di ASEAN," jelas Wakil Tetap Republik lndonesia untuk ASEAN, Rahmat Pramono.
Alan Solow, CEO PT infrastructure Asia, mitra KADIN dalam menyelenggarakan ASEAN GZB infrastructure investment Forum, menyatakan, dibangunnya sebuah wadah di mana para pelaku usaha infrastruktur global, regional maupun lokal dalam bidang infrastruktur berkumpul akan memperoleh visibilitas dan akses untuk kesempatan investasi.
Tahun lalu Indonesia infrastructure Week dikunjungi 13.620 orang, termasuk peserta internasional dari 35 negara dan perkirakan menghasilkan nilai transaksi sebesar US$ 9,6 miliar sepanjang minggu tersebut. (feb/feb)










































