Mari Elka: Ada E-Commerce, UKM Bisa Jualan Sampai ke China

Laporan dari Singapura

Mari Elka: Ada E-Commerce, UKM Bisa Jualan Sampai ke China

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 04 Agu 2016 16:08 WIB
Mari Elka: Ada E-Commerce, UKM Bisa Jualan Sampai ke China
Foto: Muhammad Idris
Singapura - Pertumbuhan e-commerce di Indonesia sedang bagus-bagusnya. Bahkan, Indonesia diproyeksi akan jadi salah satu raksasa bisnis e-commerce dengan transaksi jual beli online terbesar di Asia pada 2020 mendatang.

Ekonom senior yang juga bekas Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Mari Elka Pengestu, mengatakan pertumbuhan e-commerce yang pesat di Indonesia bisa jadi stimulus peningkatan ekspor Indonesia, khususnya peluang yang bisa dimanfaatkan oleh pengusaha kecil dan menengah (UKM) yang selama tak memiliki akses langsung ke pasar ekspor.

"Dengan adanya e-commerce, itu memudahkan UKM itu bisa ekspor ke China misalnya. Sekarang, dengan e-commerce, pelaku UKM bisa dengan mudah ekspor produk ke China lewat Alibaba," ujar Mari saat acara DBS Asian Insight Conference, di Marina Bay, Singapura, Kamis (4/8/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan pelanggan yang tak terbatas dan semakin terbuka di luar negeri, pertumbuhan UKM-UKM di Indonesia bisa melaju dengan lebih cepat.

"Pasar sangat tidak terbatas dengan pelanggan dari banyak sekali negara. Mereka tidak terhalang komunikasi, bisa berkomunikasi dengan pelanggannya dengan google translate. Itu yang harus pemerintah bantu juga, misalnya dalam packaging bagaimana agar kemasan dalam bahasa Mandarin, kemudian dimudahkan akses kredit," jelasnya.

Mari mengaku, jika dibandingkan dengan China, produk yang keluar masuk lewat e-commerce 'neraca perdagangan' Indonesia bisa dibilang defisit.

"Kita jangan lihat itu, saat ini kita baru memulai, sementara China sudah lebih dulu sejak 2008,wajar jika mereka melejit. Tapi yang pasti dengan e-commerce, produk UKM kita yang selama ini sulit diekspor langsung tanpa e-commerce, sekarang dimudahkan," ungkap dia.

"Tapi UKM kita bisa manfaatkan keunggulan dengan ekspor barang-barang yang tidak bersaing langsung dengan China. Contohnya kopi, teh, atau jamu. Dulu di China jamu rapet sari sangat populer di China, tapi kemudian tren hilang karena ada produk jamu palsu. Saya rasa ini potensi yang sangat besar," tutup Mari. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads