Setidaknya ada 3 isu utama yang perlu menjadi catatan. Pertama adalah, Pemerintah negara-negara Islam harus berperan aktif untuk mendorong upaya menyebarluaskan informasi tentang produk-produk keuangan syariah dan industri halal.
"Memberikan pengetahuan tentang produk keuangan syariah, dan prospek jangka panjang yang diberikan oleh bisnis yang berhubungan dengan halal. Ini adalah kunci untuk menjawab pertanyaan tantangan keuangan syariah di tingkat dunia," kata Sri dalam paparannya di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (4/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini, industri syariah sulit berkembang karena sulit memperoleh sumber-sumber pendanaan halal lantaran keberadaan lembaga keuangan syariah masih sangat minim dan belum mampu bersaing dengan lembaga keuangan konvensional.
"Perlu membangun percepatan peraturan dan insentif untuk membangun pembiayaan keuangan infrastruktur jangka panjang," sambung dia.
Ketiga adalah mendorong terciptanya industri di sektor kreatif oleh umat Muslim. Menurutnya, industri kreatif adalah salah satu jalan agar industri berbasis halal bisa diterima dunia.
"Perlu membangun kolaborasi yang lebih baik antara bisnis-bisnis seperti pembuatan pakaian dan penjualan makanan yang akan membantu perkembangan inovasi yang lebih panjang dan bertransformasi ke nilai yang lebih tinggi yang menambah nilai industri pakaian Muslim dan kuliner halal," tegas dia. (dna/hen)










































