Maskapai RI Bisa Terbang ke AS, Ini Langkah Garuda Indonesia

Maskapai RI Bisa Terbang ke AS, Ini Langkah Garuda Indonesia

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Senin, 08 Agu 2016 12:15 WIB
Maskapai RI Bisa Terbang ke AS, Ini Langkah Garuda Indonesia
Foto: (Afif/detikTravel)
Jakarta - Lembaga penerangan asal Amerika Serikat (AS), Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan Indonesia telah memenuhi standar keselamatan dan keamanan penerbangan. Pengumuman resmi akan dilakukan pada akhir Agustus 2016.

Bila rating penerbangan RI naik dari peringkat 2 menjadi peringkat 1, maka larangan terbang maskapai RI ke AS atau maskapai AS ke Indonesia akan dicabut.

Bersiap menunggu pengumuman FAA, Garuda Indonesia telah mengambil ancer-ancer. Tahap awal, maskapai pelat merah Indonesia ini akan memanfaatkan aliansi penerbangan yang telah terjalin di dalam SkyTeam. Di sini, terdapat maskapai asal AS yakni Delta Airlines sebagai anggota SkyTeam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Step pertama, selama ini SkyTeam alliance Garuda punya kerja sama contoh sekarang penerbangan Jakarta-Tokyo ke AS, kita bisa co-share ke AS. Kita share Delta Airlines tapi Delta (maskapai AS anggota dari SkyTeam) nggak bisa taruh co-share ke Jakarta (adanya larangan terbang). Dengan kategori 1 (boleh terbang ke Indonesia) ini memungkinkan semua US Carrier yang menjalin kemitraan dengan kita, bisa taruh penerbangan Garuda," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo kepada detikFinance, Senin (8/8/2016).

Langkah berikutnya, maskapai pelat merah Indonesia ini sedang mengkaji melakukan penerbangan langsung tanpa memakai kerja sama dengan maskapai yang tergabung dalam SkyTeam. Pengkajian akan dilakukan dengan sangat ketat.

"Masalah penerbangan ke AS harus dihitung lebih cermat. Ini penerbangan jarak jauh maka harus dihitung cermat. Ke depan, jangan membebani Garuda," sebutnya.

Untuk penerbangan langsung, Arif mengaku pihaknya akan menyiapkan 2 pesawat jenis Boeing 777 yang telah dimiliki. Opsi penerbangan kemungkinan tidak direct flight atau langsung, melainkan harus transit. Hal ini memperhatikan kemampuan landasan bandara-bandara di Indonesia untuk melayani direct flight dengan beban maksimal.

"Direct flight-nya harus dengan one transit," tambahnya.

Terkait dengan rute, Arif belum mau membukanya.

"Saya belum putuskan terbang karena sedang dihitung. Kita sedang kalkulasi benar-benar," sebutnya. (feb/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads