"Banyak yang bertanya ke saya, apakah ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 6% seperti saat tahun 2010 atau 2013?" Kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro saat membuka acara Round Table Discussion di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (9/8/2016).
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Bambang mengungkapkan, ada perbedaan mendasar antara kondisi ekonomi di tahun 2010 dengan kondisi ekonomi di tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak dana segar dari Amerika Serikat mengalir ke berbagai negara termasuk ke Indonesia. Selain itu, banyak juga investasi asing yang masuk ke sektor perkebunan dan tambang yang harga produknya memang tengah booming alias tinggi kala itu.
Kondisi-kondisi tersebut membuat dana asing membanjiri Indonesia dan menggerakkan perekonomian nasional. "Sehingga mencapai pertumbuhan ekonomi di di atas 6% saat itu bukan hal yang aneh," katanya.
Bagaimana dengan tahun ini?
Bambang mengatakan, pertumbuhan ekonomi 6% bisa saja dicapai dengan kondisi saat ini. Namun pemerintah tidak bisa lagi menggunakan cara lama seperti mengandalkan ekspor hasil perkebunan dan hasil tambang seperti di masa lalu.
"Zaman sekarang, mengandalkan ekspor seperti mimpi di siang bolong. Ekonomi dunia sedang lesu, selain itu harga komoditas juga sedang anjlok di bawah harga normal karena kenaikan harga yang terlalu tinggi di masa lalu. Jadi kita tidak bisa lagi mengandalkan ekspor," papar Bamabang.
Kondisi lain yang juga menuntut terobosan baru dari pemerintah adalah rencana pengetatan moneter oleh Amerika Serikat (AS). Dengan pengetatan tersebut, dana AS yang selama ini masuk ke Indonesia akan keluar dan membuat perekonomian nasional akan mengalami masalah.
Untuk menangkal risiko tersebut, Indonesia harus meningkatkan investasi dalam negeri dan banyak membangun infrastruktur. Tujuannya agar lebih banyak kebutuhan masyarakat yang bisa dipenuhi dari hasil negara sendiri dan membuat ekonomi nasional secara keseluruhan lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh kondisi ekonomi di luar negeri.
"Jadi menurut saya pertumbuhan 6% bisa dicapai, tapi bukan hal yang mudah saat ini," simpul dia. (dna/ang)











































