Japfa menjadi salah satu perusahaan terlapor yang diduga melakukan tindakan kartel daging ayam melalui pemusnahan terhadap afkir dini indukan ayam atau parents stock yang dilakukan secara bertahap.
Japfa diwakili Executive Vice President Divisi Pakan Antonius Harwanto dan juga Senior Vice President Budiarto Soebijanto, dan diinvestigasi sejak pukul 09.00 WIB hingga 18.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dugaan ini sendiri didasari tidak terlampirnya data produksi DOC di tahun 2014 seperti yang dilakukan di tahun-tahun sebelumnya.
Antonius pun menampik jika Japfa dibilang sebagai pelaku kartel. Ia mengatakan, hal ini merupakan tuduhan yang tidak mendasar.
Menurutnya, data produksi DOC di tahun 2014 saat itu tidak dilaporkan, karena adanya temuan yang tidak sesuai antara data dan fakta di lapangan.
"Saya tidak tahu mengapa investigator bisa mengatakan seperti itu. Menurut kami, itu kajian-kajian sesat. Kita dituduh sebagai inisiator merupakan tuduhan yang tidak mendasar dan itu sangat keji. Itu lebih condong merupakan suatu kata fitnah dan sangat merugikan kami," ungkapnya ketika ditemui usai persidangan di Gedung KPPU, Jakarta, Selasa (9/8/2016).
"Kalau data produksi yang tahun-tahun sebelumnya, kami percaya. Tapi setelah kami melihat pada tahun 2014, ternyata data-data yang kami sampaikan pada laporan tahunan kami tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Sehingga kami merasa sebagai perusahaan publik bahwa ini tidak benar untuk kita teruskan sesuatu yang kita yakini itu salah, dan tetap kita sampaikan," imbuhnya.
Antonius menambahkan, Japfa melakukan penandatanganan persetujuan afkir dini pada saat itu semata-mata hanya melakukan instruksi dari pemerintah sebagai regulator.
Tuduhan kartel yang selama ini dituduhkan menurutnya bukanlah keinginan dari para pengusaha, melainkan adanya teriakan dari para peternak mengenai terjadinya oversupply.
"Kalau mau kartel, tidak usah rapat 48 kali. Itu impossible. Kartel model apa itu," ucap Senior Vice President Japfa, Budiarto Soebijanto, yang juga hadir pada saat yang sama.
Lima dugaan tim investigator KPPU yang dilayangkan kepada Japfa hari ini, di antaranya :
1. Japfa sengaja tidak memasukkan data produksi DOC (Day Old Chicken) final stock pada laporan tahun 2014, yang mana telah menjadi kebiasaan sejak tahun 2007.
2. Japfa menghembuskan rumor adanya over supply pada tahun 2014.
3. Bahwa rumor over supply tersebut digunakan untuk memangkas induk ayam atau parent stok untuk seluruh breeder baik kecil maupun besar.
4. Bahwa breeder kecil yang dipaksa melakukan afkir menggunakan tangan pemerintah, pada akhirnya hanya pasrah dan akibatnya mati.
5. Pangsa pasar yang hilang merupakan 'kue' yang kemudian diperebutkan oleh perusahaan besar, salah satunya Japfa. (ang/ang)











































