Follow detikFinance
Kamis 11 Aug 2016, 16:28 WIB

Buruknya Integrasi Transportasi Publik di Jakarta

Muhammad Idris - detikFinance
Buruknya Integrasi Transportasi Publik di Jakarta Foto: Indra Subagja/detikcom
Jakarta - Puluhan tahun masalah akut kemacetan di Jakarta belum juga teruraikan. Salah satu alasannya, Ibu kota belum memiliki moda transportasi massal yang terintegrasi dengan baik.

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan, Elly Adrian Sinaga, mengungkapkan setiap operator angkutan publik terkesan jalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Sehingga, integrasi moda kerap asal-asalan tanpa perencanaan yang baik yang akhirnya merepotkan penumpang.

"Jadi memang selama ini sendiri-sendiri. Saya kumpulkan karena itu nggak bisa jalan sendiri-sendiri," kata Elly di kantor BPTJ, Jalan MT Haryono, Jakarta, Kamis (11/8/2016).

Dia mencontohkan, di Stasiun Palmerah, bus Trans Jakarta yang jadi feeder harus menunggu 'ngetem' dengan memakan jalan di samping stasiun. Akibatnya, jalur kendaraan terhambat dan menambah kemacetan jalan. Penumpang pun dibuat tidak nyaman. Hal serupa terjadi di pemberhentian busway di depan Stasiun Manggarai.

"Busway di Stasiun Palmerah ini kan nunggu penumpang di jalan, mengganggu lalu lintas. Akhirnya semrawut, kalau integrasi benar-benar dilakukan kan harusnya ada tempat khusus menunggu bus. Harus ada pelayanan sama, stasiunnya sudah bagus, tapi tempat tunggu busnya begitu," jelas Elly.

Contoh lainnya, sambungnya, yakni pembangunan pertemuan antara MRT, LRT, dan bus Trans Jakarta di Dukuh Atas. Yang lagi-lagi, desain pembangunannya bisa merepotkan pengguna angkutan publik ketiganya ketika akan berpindah moda.

"Lihat Dukuh Atas, stasiun MRT di seberang jalan, stasiun KRL di seberangnya lagi. Stasiun LRT di atas sungai, busway di seberang sebelahnya lagi. Makanya integrasi harus dilakukan satu fisik. Ada standar, misal jalan kaki 200 meter minimal, kalau 1 kilometer bukan integrasi namanya," ucap Elly.

Secara khusus, untuk titik pertemuan di Dukuh Atas, pihaknya meminta PT MRT Jakarta yang membuat desain untuk pertemuan dan jalur perpindahan dari masing-masing mode.

"Saya tunjuk PT MRT yang buat desainnya, agar bisa disatukan. Nanti LRT dan lainnya koordinasi dengan MRT. Ini ada lagi, sama-sama LRT saja stasiunnya bisa beda. Kenapa tidak jadi satu," kata Elly menyinggung letak stasiun LRT Dukuh Atas yang dikelola PT Adhi Karya dan PT Jakarta Propertindo. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed