"90 persen warga di sini petani kopi, sisanya peternak kambing etawa. Dari total 570 hektar tanah, 300 hektar lebih adalah kebun kopi," ujar Kepala Urusan Kesejahteraan Masyarakat Desa Telemung, Syaiful Hidayat saat berbincang, Rabu (10/8/2016).
Syaiful menerangkan produksi kopi di desanya mencapai 5 ton per hektar tiap musim panen. Dia juga menjelaskan mayoritas jenis kopinya adalah robusta dan excelsa (buria atau kopi nangka).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sentra kopi luwak di Banyuwangi |
Ditemui terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Hary Cahyo Purnomo menerangkan potensi kopi di Desa Telemung akan dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Dia juga menyebut perkembangan Kecamatan Kalipuro semakin progresif karena sebelumnya kecamatan ini dikenal sebagai lumbung kemiskinan.
Sentra kopi di Banyuwangi |
"Kopi ini sifatnya embrio destinasi wisata, prospeknya bagus. Harapan saya dengan embrio destinasi wisata bisa menjadi daya tarik. Akhirnya Kalipuro bukan lumbung kemiskinan lagi," jelas Hary.
Letak desa Telemung ini berada diantara kaki Gunung Ijen dan Gunung Raung. Letaknya yang strategis ini layak menjadi destinasi baru di Banyuwangi. (ams/hns)












































Sentra kopi luwak di Banyuwangi
Sentra kopi di Banyuwangi