Begini Pandangan BI Soal Eksportir di Sektor Maritim RI

Begini Pandangan BI Soal Eksportir di Sektor Maritim RI

Dana Aditiasari - detikFinance
Kamis, 11 Agu 2016 21:03 WIB
Begini Pandangan BI Soal Eksportir di Sektor Maritim RI
Foto: Dana Aditiasari-detikFinance
Batam - Sektor maritim seperti perikanan dan pelayaran justru memberi kontribusi pada defisit neraca jasa. Menurut Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Juda Agung, penyebabnya adalah karena eksportir Indonesia adalah eksportir pasif.

"Artinya eksportir kita itu bukan orang yang berdagang menjajakan barang, tapi mereka melakukan ekspor karena orang yang butuh mencari mereka," tutur dia dalam diskusi di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau, Batam, Kamis (11/8/2016).

Dampaknya sangat besar bagi Indonesia karena kegiatan ekspor didasarkan atas permintaan, maka hampir seluruh kebijakan terkait kegiatan ekspor ditentukan oleh pihak asing yang merupakan negara tujuan ekspor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka yang tentukan mau pakai kapal mana yang menurut mereka efisien. Karena kapalnya dari mereka, asuransi juga mereka yang cari yang sesuai kebutuhan mereka. Itu yang bikin kita banyak jasa bidang pelayanan pakai asing," jelas dia.

Pemerintah saat ini, telah menyadari kondisi tersebut sehingga sejumlah kebijakan mulai diarahkan pada peningkatan peran industri dalam negeri. "Seperti mulai mengarah pengembangan industri galangan kapal dan lain-lain. Memang tidak bisa menghilangkan, tapi paling tidak bisa mengurangi," tandas dia.

Sebelumnya Juda mengungkapkan bahwa sektor maritim berkontribusi hingga 80% pada defisit neraca jasa secara nasional. Defisit ini, kata dia, sudah berlangsung bertahun-tahun dan harus segera dipecahkan.

Sekedar catatan saja, defisit neraca jasa di tahun 2015 mencapai US$ 8,3 miliar atau Rp 107,9 triliun. Artinya, defisit neraca jasa di sektor maritim saja bisa mencapai Rp 86,32 triliun di tahun 2015. (dna/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads