Dalam dialognya, seorang petani bernama Ustas mengeluhkan ketiadaan pasar, sehingga memaksa petani jagung di desanya kepada tengkulak.
"Sungainya kering Pak. Kalau kering begini tak bisa tanam. Terus kalau jual harus ke tengkulak," keluh Ustas saat diminta Amran mengutarakan keluhannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebut nama tengkulaknya yang menyusahkan petani. Aku suruh Wakapolda tangkap. Siapa nama tengkulaknya? Ada di sini?" tanya Amran.
"Tidak Pak. Malu," jawab Ustas.
"Coba siapa namanya tengkulaknya? Nggak usah takut. Apa jangan-jangan orangnya ada di sini," tanya Amran lagi seperti menginterogasi.
"Tidak mau Pak," kata Ustas.
Kali ini, dengan sedikit memaksa, Amran kembali bertanya siapa nama tengkulak yang selalu membeli jagung di desanya. Jadi siapa namanya? Ngomong saja, apa sepupunya tengkulak ada di sini?" kata Amran lagi.
"Tidak mau Pak. Nggak enak," ucap Ustas yang terlihat gerogi ditanya Amran beberapa kali.
Amran kemudian tak lagi melanjutkan pertanyaannya kepada petani. "Ini janganlah kita saling tuduh. Tapi kalau coba-coba ganggu petani, berhadapan dengan menteri. Nggak ada kompromi yang ganggu petani," tandas Amran.
Menteri asal Bone, Sulawesi Selatan ini kemudian bercerita bahwa dirinya tak main-main kepada pihak yang menyusahkan petani. Menurutnya, tahun lalu sudah ada 40 orang yang dijebloskan ke penjara lantaran menimbun dan mengoplos pupuk bersubsidi.
"Ketahanan pangan adalah ketahanan negara. Tahun lalu kami penjarakan 40 orang orang, salah satunya isteri pejabat yang mengoplos pupuk. Dia untung Rp 500 juta sehari. Tak pandang bulu, kami penjarakan," tegas Amran. (hns/hns)











































