Gencar Bangun Pelabuhan, RI Perlu Perhatikan 6 Hal Ini

Gencar Bangun Pelabuhan, RI Perlu Perhatikan 6 Hal Ini

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kamis, 25 Agu 2016 19:15 WIB
Gencar Bangun Pelabuhan, RI Perlu Perhatikan 6 Hal Ini
Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Pembangunan infrastruktur gencar dilakukan saat ini, salah satunya adalah pelabuhan. Agar pelabuhan itu bisa bertahan dan digunakan terus-menerus, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah.

Berikut beberapa tips dari Deputi Direktur Bidang Maritim Pelabuhan San Francisco, Amerika Serikat (AS), Peter A. Dailey, agar pelabuhan bisa bertahan lama dan dipakai berkelanjutan.

Pertama, adalah soal infrastruktur pelabuhan. Infrastruktur harus dibangun dengan baik dan memiliki proyeksi yang panjang, mengingat membangun pelabuhan merupakan perkara dalam puluhan tahun ke depan. Logistik dari kapal-kapal modern saat ini semakin besar. Dengan begitu dibutuhkan ukuran crane yang semakin besar, dan perlu teknologi untuk memindahkan kargo yang semakin besar dari terminal kapal sampai ke tempat tujuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kapal tidak akan semakin kecil tapi semakin besar. Jika anda memiliki kapal besar, maka anda juga akan kewalahan untuk peti kemas yang semakin besar," ujar Deputi Direktur Bidang Maritim Pelabuhan San Francisco Peter A. Dailey ketika melakukan presentasi di Atamerica, Pacific Place, Jakarta, Kamis (25/8/2016).

Kedua, adalah masa dwell time. Dengan ukuran dan jumlah kapal yang semakin besar, maka dwell time juga harus diperhatikan demi memberikan pelayanan yang baik bagi kapal-kapal yang bersandar. Untuk itu, perlu juga diperhatikan kedalaman perairan dalam membangun suatu dermaga pelabuhan.

"Saya tahu dwell time juga jadi isu di Indonesia. Perlu perairan atau air yang dalam ketika kapal besar datang ke pelabuhan anda. Karena ukuran peti kemas juga semakin besar dari tahun ke tahun," tambahnya.

Ketiga, adalah aspek lingkungan hidup. Perhatian dunia dari tahun ke tahun akan semakin sensitif mengenai hal ini. Sehingga, menurutnya juga harus dipikirkan upaya inovasi dalam pemanfaatan energi dalam menghadapi isu ini.

"Misalnya kapal yang terlalu banyak asap akan menurunkan kualitas lingkungan. Ada peraturan-peraturan internasional seperti pengurangan emisi bahan bakar kapal. Menangani hal itu, sekarang kami memiliki sistem listrik daratan. Ketika ada kapal pesiar datang, maka kapal akan mematikan listriknya dan akan menggunakan listrik tenaga air untuk beroperasi. Jadi ini ramah lingkungan. Peraturan-peraturan seperti ini akan semakin ketat di masa yang datang. Kita harus jadi warga negara yang baik dalam menjaga lingkungan hidup," jelasnya.

Keempat adalah persoalan ketinggian air laut. Ini menjadi tantangan dalam melakukan pembangunan pelabuhan. Menurutnya, harus ada cara yang kreatif dan inovatif untuk merancang sebuah dermaga, sehingga kenaikan permukaan air laut tidak akan mempengaruhi di masa yang akan datang.

"Mengenai kenaikan air laut kami sudah melakukan penelitian yang intensif. Kami mengembangkan skenario dari yang paling buruk sampai 100 tahun ke depan. Salah satunya topan yang terjadi 100 tahun sekali datang. Tapi sesungguhnya tidak ada orang yang memiliki jawaban terbaik untuk penanganan permukaan air laut ini," tandasnya.

Kelima, lanjut dia adalah masalah keamanan. Dailey mengatakan diperlukan sistem keamanan yang baik di pelabuhan baik dari ancaman keamanan dari luar, maupun dari dalam sehingga aman untuk pekerja yang ada di pelabuhan. Untuk itu diperlukan komitmen pendanaan yang kuat pula

Keenam, adalah kualitas hidup penduduk di sekitar pelabuhan. Menurutnya sudah sewajarnya suatu pelabuhan memastikan situasi penduduk di sekitar area tetap kondusif.

"Mereka mau kena cipratan tapi tidak mau kena polusi suara dan lainnya. Jadi kami memberikan semacam layanan kepada masyarakat untuk sekedar membuat mereka cukup tenang. Kami membuat taman-taman dan akses pelayanan umum di sekitar pelabuhan," tuturnya.

"Infrastruktur semakin besar, peraturan tentang lingkungan hidup juga semakin ketat. Port security dan juga kualitas hidup. Ini sudah kami pelajari selama 10 tahun ini dan saya rasa juga akan terjadi di Indonesia," pungkasnya. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads