Sugiharto, pengelola penjualan hewan kurban Bina Insan Kamil (BIK) di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat mengatakan, mahalnya harga di tingkat peternak jadi salah satu sebab utama harga hewan kurban selalu mahal.
"Kalau murah harusnya pemerintah bantu peternak lokal supaya efisien. Yang bikin sapi dari peternak mahal karena harga bibit sapinya sudah mahal, kalau bibitnya murah, peternak bisa jual sapi lebih murah ke kita," kata dia kepada detikFinance, Minggu (28/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga bibitnya saja mahal, bagaimana mau jual murah. Taruhlah harga bibit sapi berat 180 kg itu saja sudah Rp 10 juta ke atas. Mahal karena pelihara sapi betina butuh banyak uang, sapi betina dibuahi kalau sudah usia 2 tahun, tapi biaya pemeliharaan dan pakan keluar terus," ujar Sugiharto.
"Setelah 2 tahun baru bisa dilakukan IB (inseminasi buatan), itu juga belum tentu ada hasilnya. Kalau pun jadi anakan harus nunggu hamil 9 bulan, belum ada hasil tapi uang keluar terus, makanya orang malas pembibitan sapi. Akhirnya swasta atau individu yang jual bibitnya sudah mahal," imbuhnya
Sugiharto mengatakan, ketimbang setiap tahun pemerintah mengimpor sapi terus-menerus, lebih baik pemerintah fokus pada pengembangan sapi breeding yang efisien, sekaligus membantu penyediaan anakan sapi yang murah untuk peternak lokal.
"Akhirnya orang lebih suka jadi feedloter, gemukkan 3 bulan sudah dapat uang. Sapi lokal masih saja mahal, makanya kalau pemerintah mau hewan kurban bisa murah, yah bantu peternak lokal di bibitnya," ucap dia.
Dia menuturkan, sapi-sapi yang dijualnya tersebut didatangkan dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dengan membelinya langsung dari peternak sapi.
"Belinya kebanyakan dari Jawa Tengah seperti Brebes, Pati, Purworejo, dan Banjarnegara. Kita beli cash dari peternak, atau biasanya kita juga kasih peternak bibit sapi, mereka pelihara kemudian jual ke kita," ucap Sugiharto.
Dia merinci, untuk sapi lokal Bali dijual seharga Rp 29 juta dengan berat 500 kg, Rp 23 juta dengan berat 400 kg, Rp 20 juta dengan berat 350 kg, Rp 17 juta berat 300 kg, dan Rp 14,7 juta untuk bobot 250 kg.
Sementara untuk sapi Limousin dan Simental dijual lebih mahal yakni untuk berat 500 kg seharga Rp 30 juta, berat 400 kg seharga Rp 24 juta, berat 350 kg seharga 21 juta, berat 300 kg seharga Rp 18 juta, dan yang termurah Rp 15,5 juta dengan bobot 250 kg. (drk/drk)











































