Dradjad: Asumsi Harga Minyak Mestinya US$ 45 per Barel
Senin, 28 Mar 2005 15:02 WIB
Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI Dradjad H Wibowo menilai, asumsi harga minyak dalam APBN-P 2005 yang wajar adalah US$ 45 per barel. Dengan melihat harga minyak dunia saat ini, maka asumsi US$ 35 per barel dinilai sangat sulit tercapai. "Asumsi harga BBM harus dinaikan US$ 45 per barel. Itu saya lebih sreg. Tapi kalau US$ 50 per barel asumsinya ketinggian," kata Dradjad disela-sela seminar tentang migas di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (28/3/2005). Dradjad menegaskan, dengan asumsi yang dipatok sebesar US$ 35 per barel itu, maka harga impor minyak akan lebih besar dibandingkan Indonesia Crude Price (ICP). "Ini akan membuat tambahan subdisi BBM yang akhirnya disaat pemerintah tidak sanggaup mereka cenderung menaikkan harga BBM lagi. Itu satu hal yang tidak bisa diterima. Maka harus diantisipasi dari sekarang," tegasnya. Ditegaskannya, berapapun harga minyak saat ini, jika produksi minyak Indonesia masih dibawah 1 juta barel per hari, maka Indonesia tidak akan bisa berbuat banyak karena konsumsi terus melonjak. Dradjad mencatat, dalam 6 tahun terakhir, konsumsi BBM telah naik sekitar 30 persen dan saat ini mencapai 60 juta kilo liter per tahun. Dradjad juga mengungkapkan perihal asumsi dari Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang sering kali tidak tepat. "Dulu ia mengatakan waktu harga minyak belum mencapai US$ 40 per barel, ia (Purnomo) mengatakan harga minyak turun, dan yang terjadi malah harga minyak diatas US$ 50 per barel," ungkapnya. Ia berharap pembahasan di Panitia Anggaran di DPR tidak hanya terfokus pada bagi-bagi proyek dana kompensasi. Sementara mengenai asumsi APBN-P 2005 lainnya, Dradjad menilai untuk asumsi nilai tukar Rupiah yang realistis adalah Rp 9.200-9.300 per dolar AS. Sementara untuk inflasi sudah tepat yakni di kisaran 7 persen, dan untuk SBI akan lebih tepat pada kisaran 8 persen.
(qom/)











































