Secara tahun kalender 2016, inflasi baru mencapai 1,42% (ytd), yang juga lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi lima tahun sebelumnya sebesar 3,85% (ytd). Rendahnya inflasi dipengaruhi oleh koreksi harga pada komoditas transportasi dan pangan, seiring berakhirnya aktivitas mudik dan liburan, serta pasokan pangan yang tetap terjaga.
Demikianlah disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Doni P. Joewono dalam siaran pers yang dikutip detikFinance, Jumat (2/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perkembangan harga ini membawa kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 1,21% (mtm), lebih dalam dibandingkan dengan rata-rata satu bulan pasca-Idul Fitri dalam lima tahun sebelumnya (deflasi 0,47% (mtm)," kata Doni.
Deflasi juga terjadi pada komoditas daging ayam ras, dan daging sapi. Kedua komoditas tersebut masing-masing mengalami deflasi sebesar 4,55% (mtm) dan 0,81% (mtm), seiring kesinambungan pasokan yang terjaga pasca-Idul Fitri. Harga komoditas bumbu-bumbuan turut mengalami penurunan, seiring aktivitas perdagangan yang kembali normal dan pasokan yang terjaga. Komoditas bumbu-bumbuan utama yang mengalami deflasi yaitu bawang merah dan bawang putih yang masing-masing tercatat sebesar 5,61% (mtm) dan 2,49% (mtm).
"Adapun harga beras relatif stabil dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan pemenuhan pasokan antar waktu panen atau inventory system yang sudah berjalan dengan baik, sehingga suplai dapat merespons cukup baik permintaan yang ada," paparnya.
Pencapaian inflasi Agustus 2016 yang rendah turut didukung oleh rendahnya inflasi inti. Pada tahun ini, masuknya tahun ajaran baru sekolah pada berbagai jenjang pendidikan, tidak terlalu menekan kenaikan inflasi inti.
Walaupun kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada bulan Agustus 2016 mengalami inflasi sebesar 0,98% (mtm) dan lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata lima tahun sebelumnya (0,85% mtm), kenaikan tersebut dapat tertahan oleh perkembangan harga berbagai macam komoditas sandang yang juga mengalami penurunan seiring dengan berlalunya Idul Fitri.
Kelompok sandang hanya mengalami inflasi sebesar 0,89% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan rata-ratanya satu bulan pasca-Idul Fitri dalam lima tahun terakhir sebesar 1,54% (mtm).
Memerhatikan pola pergerakan harga-harga di pasar, tekanan inflasi pada September 2016 diprakirakan akan tetap terkendali. Perayaan Idul Adha yang jatuh pada 12 September 2016, diperkirakan tidak akan memberikan tekanan yang berarti pada laju inflasi bulan September 2016, sebagaimana pola historisnya dalam beberapa tahun sebelumnya. Walau demikian, hujan berkepanjangan yang disebabkan oleh La-Nina perlu diwaspadai karena dapat mengganggu pasokan pangan ke ibukota.
Penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI serta BUMD di bidang pangan melalui TPID perlu terus digalakkan untuk mencapai inflasi yang rendah dan stabil pada tahun 2016.
Berbagai program TPID harus selaras dengan program-program kerja di masing-masing SKPD dan instansi terkait lainnya, terutama yang menyangkut ketahanan pangan dan kelancaran distribusi pangan. Koordinasi yang baik juga sangat diperlukan dalam sinkronisasi kebijakan, yang didukung dengan komitmen yang kuat dari berbagai pihak dalam menjalankan Roadmap Pengendalian Inflasi Jakarta.
Tercapainya kestabilan inflasi akan mendorong pembangunan ekonomi Jakarta secara keseluruhan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (mkl/ang)











































