Yang pertama adalah ketidakpastian suku bunga the Fed Amerika Serikat (AS). Bank Sentral Amerika ini tidak pernah yakin kapan akan menaikkan suku bunganya.
Ketidakjelasan perekonomian negara-negara maju seperti Jepang, China dan Eropa. Khusus tentang ketidakjelasan negara maju, membuat negara-negara ini menggunakan kebijakan moneternya, seperti menggunakan suku bunga negatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang kedua adalah tren pertumbuhan ekonomi negara China yang menjaga di tingkat 5-6%. Hal ini menjadi perhatian besar untuk Indonesia, dimana China menjadi partner perdagangan utama Indonesia. Pertumbuhan dari ekspor ke negara China pun menjadi riskan untuk diraih.
Yang ketiga adalah rendahnya harga komoditas. Indonesia sebagai negara yang masih mengandalkan komoditas sebagai ekspornya, langsung terkena imbas akibat nilai ekspor yang semakin lama semakin kecil.
Dinamika perekonomian dunia tersebut membuat Indonesia juga ikut merevisi pertumbuhan ekonomi nya ke bawah.
Sumber pertumbuhan lain Indonesia seperti konsumsi di Indonesia yang tumbuh sekitar 5,0-5,1% dalam 2-3 tahun terakhir. Begitu pula dengan investasi yang juga tumbuh stabil sekitar 5-6%.
Secara sektoral, terkait penurunan harga komoditas, sektor pertambangan juga mengalami penurunan. Sektor pertanian yang juga diandalkan, karena memiliki lapangan pekerjaan yang banyak bagi banyak orang, juga mengalami imbas El-Nino.
"Sektor pertanian yang biasa tumbuh 4-5%, tahun ini hanya tumbuh 3%. Sektor lain yang agak bagus adalah informasi dan komunikasi. Tahun ini pertumbuhannya 8%, tapi dua tahun lalu 10%," jelas dia.
"Jadi, di tengah ketidakpastian global, Indonesia pun kena imbas. Pertumbuhan kita tahun lalu 4,8%, tahun ini kita perkirakan 5,04-5,1%. Dan perekonomian dunia belum sembuh. Karena itu kita mengestimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan sekitar 5,1%," tambahnya.
Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa berharap tumbuh lebih lagi di tahun-tahun mendatang, seiring dengan berbagai kebijakan dan deregulasi yang telah dilakukan oleh pemerintah.
"Pertumbuhan kita masih di angka 5%. Kalau melihat Brazil dan Rusia sudah negatif, kita masih tumbuh di 5%. Ini masih baik, tapi tidak spektakuler," pungkasnya. (dna/dna)











































