Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 18 Sep 2016 13:26 WIB

Ekonomi Dunia Sedang Melambat, SBY: Kita Jangan Lagi Rakus

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Eduardo Simorangkir Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Ekonomi dunia yang masih belum pulih pasca krisis di 2008, membuat negara-negara berkembang seperti Indonesia membutuhkan pondasi yang lebih kuat. Hal ini juga didukung dengan lahirnya mega trans atau perubahan besar yang sedang dirasakan oleh dunia saat ini.

Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, Indonesia harus memiliki sistem politik yang mapan, seiring dengan terjadinya berbagai perubahan yang terjadi di dunia. Saat ini terjadi perubahan besar-besaran di dunia, yang disebut dengan istilah mega trans.

Mega trans meliputi perubahan jumlah penduduk dunia yang semakin bertambah, terjadinya perkembangan teknologi yang siginifikan, perpindahan penduduk dari wilayah desa ke kota, hingga terjadinya era globalisasi yang membuat tidak adanya lagi batasan antar negara dalam memperoleh informasi.

"Kalau cara menjalankan ekonomi masih boros dan rakus, tidak memelihara lingkungan, maka masa depan kita gelap. Oleh karena itulah, terbangun kesadaran baru dalam pembangunan, dalam ekonomi, dalam memenuhi kebutuhan hidup kita harus menjaga kelestarian lingkungan seraya mencegah kesenjangan," ujar dia dalam diskusi panel di acara Conference of Indonesia Foreign Policy di Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (18/9/2016).

"Inilah dunia baru. Ekonomi dunia belum pulih benar. Tapi muncul kesadaran baru, kita harus selamatkan dunia kita, di tengah mega trans tadi. Indonesia karenanya, kalau kita ingin selamat generasi yang akan datang, kalau ingin menjadi negara yang kuat ekonominya, kuat demokrasinya, peradabannya, maka kita harus mengerti mega trans," tambahnya.

Di era globalisasi sekarang ini, Indonesia dituntut untuk selalu siap dan waspada bahwa gejolak dan gangguan bisa datang sewaktu-waktu dan bisa membawa ekonomi Indonesia rentan akan perubahan, mengingat ketergantungan kita kepada negara lain.

"Dan akhirnya kita menetapkan kebijakan, politik luar negeri, menjalin persahabatan dan kemitraan. Dengan demikian, perubahan seperti apapun, Indonesia tidak tertinggal, kalah dan merugi. Karena kita punya arah, lantas kebijakan kita pun tetap. Barunya dunia membuat Indonesia harus memperbaharui cara pandangnya," pungkasnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com