Turunnya pasokan ikan ke pabrik disinyalir karena kurangnya daya tangkap ikan nelayan Indonesia akibat terbatasnya jumlah kapal dan fasilitas cold storage. Sehingga banyak nelayan yang menangkap ikan hanya untuk kebutuhan konsumsi saja.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi P. Prayanto, menyebutkan bahwa kemampuan pendanaan bank dalam negeri harus dimaksimalkan dalam membiayai industri perikanan seperti perkapalan hingga cold storage.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diprioritaskan dalam negeri dulu bisa apa nggak. Industrinya bisa nggak, perbankannya bisa nggak, kalau sudah cukup ya sudah," tutur Yugi di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Senin (19/9/2016).
Namun, apabila kemampuan pendanaan perbankan dalam negeri belum mampu membiayai investasi industri perkapalan dan cold storage maka diperlukan campur tangan asing dalam bentuk investasi.
Investor asing bisa masuk ke Indonesia dengan memberikan pendanaan untuk memproduksi kapal nelayan dan cold storage. Selanjutnya, yang melakukan eksekusi alias produksi adalah masyarakat Indonesia sendiri.
"Tapi kalau memang kurang duitnya mereka (asing) saja. Bukan mereka ikut menangkap ikan, tapi uangnya saja, terus yang kelola uang itu kita," kata Yugi.
"Investasi uang untuk bangun industri kapal di Indonesia kerja sama dengan pengusaha nasional. Setelah selesai dibangun tetap pelaku usahanya kita," tambah Yugi.
Hal ini perlu dilakukan agar industri pengolahan ikan di Indonesia tidak lagi kekurangan bahan baku. Sehingga investasi langsung asing diperlukan untuk mendanai pembuatan kapal dan cold storage di Indonesia.
"Kalau mereka (asing) mau investasi di processing itu oke. Jadi lebih ke pendanaan sama alih teknologi," tutur Yugi. (hns/hns)











































