Menhub Targetkan Dwell Time Tanjung Priok 2,5 Hari

Menhub Targetkan Dwell Time Tanjung Priok 2,5 Hari

Yulida Medistiara - detikFinance
Rabu, 21 Sep 2016 13:21 WIB
Menhub Targetkan Dwell Time Tanjung Priok 2,5 Hari
Foto: Dok. Kementerian Perhubungan
Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya menggelar rapat kordinasi membahas dwell time atau waktu bongkar pelabuhan di kantornya. Dalam rapat tersebut diungkapkan bahwa angka dwell time di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta akan dipangkas lagi menjadi 2,5 hari.

Saat ini angka dwell time di Tanjung Priok mencapai 3,5 hari, tetapi kini di persingkat menjadi 2,5 hari. Sedangkan di luar Jakarta seperti Medan dan Surabaya itu ditetapkan 3,5 hari karena masih membutuhkan beberapa penyesuaian.

"Keputusan yang paling utama dari kesepakatan yang dicapai dwell time yang tadinya di Jakarta 3,5 hari kita menetapkan waktu yang di tetapkan kurang dari 3 hari atau 2,5 hari," kata Menhub Budi Karya, di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (21/9/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka dwell time 2,5 hari di pelabuhan Tanjung Priok itu terdiri dari pre clearence 1 hari, clearance kurang lebih 12 jam atau setengah hari dan post clearance 1 hari. Ia mengatakan, saat ini post clearance di Jakarta masih bagus, tetapi di kota lain masih terkendala.

"2,5 hari itu kan maya ya tapi spiritnya harus kurang dari 3 hari. Di post clearance itu kan lebih dengan harapan itu bisa dan tercapai tapi nanti sudah di diskusikan ada yang mau lewat. Kalau post clearance di Jakarta sudah oke tapi di Medan dan Surabaya itu satu pekerjaan yang sulit," kata Budi.

"Jadi saya pikir itu di walaupun di Jakarta sudah mencapai waktu 2,5 hari. Mungkin di Medan dan Surabaya kita kasih target 3,5 hari karena banyak sekali yang harus diimprove dari 6 hari jadi 3,5 hari," imbuhnya.

Namun, ini untuk barang-barang yang mencurigakan atau indikasi membawa barang berbahaya seperti peledak nanti akan dikecualikan. Misalnya memeriksa asal usul barang tersebut lebih rinci atau terkait makanan yang dicurigai mengandung virus, nanti akan dikoordinasikan dengan K/L terkait.

"Iya tapi kan yang mencurigakan itu mungkin 10% dari yang ada di pelabuhan tapi yang lain bisa lebih cepat diharapkan," ujar Budi. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads