Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Yoga Affandi menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia ke depannya tidak lagi bisa bergantung kepada ekonomi global. Turunnya volume perdagangan internasional serta anjloknya harga komoditas menjadi faktor utama lemahnya pertumbuhan ekonomi global.
"Ke depan kita tidak bisa lagi bersandar pada pertumbuhan ekonomi global. Sebetulnya agak bahaya karena kita akan domestic oriented," jelas Yoga di Kantor Perwakilan BI Semarang, Sabtu, (24/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Faktor global lainnya adalah China di mana masih jadi magnet pertumbuhan ekonomi dunia. Kalau China stabil, tentu akan dorong ekonomi Indonesia," tutur Yoga.
Namun tidak perlu khawatir, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia yang beragam membuat Indonesia lebih mampu menghadapi pelemahan ekonomi global. Berbeda dengan Brasil dan Rusia yang hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi dari komoditas, sehingga ketika harga komoditas anjlok ekonomi mereka sangat terdampak.
"Indonesia itu ekonomi luar biasa, dia terdiversifikasi. Beda dengan Brasil dan Rusia yang akibat penurunan harga komoditas langsung ambruk. Kita masih stay di 5%, tidak heran likuiditas banjir masuk ke Indonesia. Indonesia seimbang antara ekspor dan konsumsi," ujar Yoga. (ang/ang)










































