Terimbas Flu Burung, Harga Ayam di Riau Anjlok

Terimbas Flu Burung, Harga Ayam di Riau Anjlok

- detikFinance
Kamis, 31 Mar 2005 18:02 WIB
Pekanbaru - Kendati di Riau belum ditemukan kasus flu burung, namun hal itu berimbas pada jual beli ayam di Pekanbaru. Dalam sepekan ini, harga ayam di pasar tradisional anjlok drastis.Sejumlah pedagang di pasar tradisional di Pekanbaru mulai mengeluh karena hasil penjualannya yang anjlok. Penyebabnya, ada kekhawatiran masyarakat untuk mengkomsumsi ayam potong takut terkena wabah flu burung. Akibat terkena dampak isu flu burung, harga ayam potong anjlok dari Rp 13 ribu per kilogran menjadi Rp 8 ribu per kilogram."Walau harga sudah turun dratis dari harga normal, tingkat penjualan kita tetap saja turun. masyarakat khawatir untuk mengkomsumsi daging ayam potong, walau di Riau belum ditemukan kasus flu burung," ungkap Buyung (34) salah seorang pedagang ayam potong di pasar tradisional Dupa Jl Sudirman Pekanbaru kepada detikcom, Kamis (31/3/2005).Menurut Buyung, yang telah membuka usahanya sejak 4 tahun silam, kondisi merosotnya penjualan ayam potong ini sudah dirasakan dalam sepekan ini. Yang biasanya bisa menjual lebih dari 100 kilogram per hari, kini menjual 30 kilogram per hari sangat sulit. "Dagangan kita ini terus merosot hanya karena wabah flu burung," katanya memelas.Tidak hanya pedagang ayam potong di pasar tradisonal yang mengeluh merosotnya penjualan mereka. Hal yang sama juga dirasakan para peternak ayam potong di Pekanbaru. Ayong (45) salah seorang peternak ayam di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, mengaku omset penjualan ayam potongnya turun lebih dari 50 persen.Jika sebelumnya dia bisa menjual ayam hingga 600 kilogram per hari untuk memenuhi para pedagang ayam di sejumlah pasar dalam sehari hanya bisa menjual 300 kilogram. Malah katanya, dalam dua hari terakhir ini dengan gencarnya pemberitaan di media massa akan wabah flu burung, penjualan ayam potongnya hanya laku 100 kilogram. "Kita susah sekarang untuk menjual ayam ini," keluhnya.Peternak ayam yang telah menekuni usahanya sejak 10 tahun silam, malah khawatir usahanya akan segera bangkrut karena wabah flu burung ini. Padahal pada setahun yang lalu dengan kasus yang sama soal flu burung, dia mengaku mengalami kerugian Rp 200 juta untuk menutupi biaya perawatan dan gaji karyawannya."Padahal sejauh ini ternak ayam potong kita belum ada yang kena flu burung. Namun, masyarakat di Pekanbaru sudah khawatir akan penyebaran penyakit flu burung itu. Bila kondisi seperti ini terus bertahan hingga 3 bulan ke depan, rasanya kita pasti bangkrut," demikain Ayong. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads