Sebab, dengan hilangnya kapal-kapal asing yang selama ini mencari ikan di perairan Indonesia membuat jumlah tangkapan nelayan lokal meningkat cukup tajam.
"Illegal fishing itu lucrative business, karena dia juga bisa bawa smuggling and anything else. Tapi ternyata pemerintah juga melihat menenggelamkan kapal is also lucrative business. You save a lot of money, you earn a lot of money. Karena dengan tidak dicurinya ikan kita, ikan itu tambah banyak," papar dia saat acara Pre Event Gathering 6th Indonesian Pearl Festival di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Rabu (12/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perikanan tangkap Indonesia dari jumlah tangkapan 2014 yang 2,5 juta naik jadi 6,6 juta ton. Bahkan kemarin di simposium dikatakan sama Presiden (Joko Widodo/Jokowi) 7,3 juta ton. Berarti ada tangkapan 4,7 juta tambahan. Kalau dikalikan harganya US$ 1 tangkapan ikan, sudah berapa miliar itu. Ditambah lagi BBM yang diamankan karena tidak adanya lagi ribuan kapal pencuri ikan yang memakai BBM kita," ujar dia.
"Paling tidak 4,7 juta ton kalaupun tidak diekspor, paling tidak dimakan sendiri oleh orang Indonesia. Paling tidak lebih murah dari daging sapi. Bisa mengurangi atau menurunkan angka impor daging sapi," tambahnya.
Susi melanjutkan, pemerintah juga bekerja sama dengan negara lain dalam memberantas illegal fishing. Para pengusaha pun diimbau agar mau mendukung pemberantasan illegal fishing. Hal ini juga bertujuan agar laut Indonesia tidak hanya dinikmati oleh pengusaha besar.
"Luar negeri asing juga harus menghargai Indonesia menutup 100% perikanan tangkap untuk asing. Pengolahan kita buka 100% untuk asing. Hal-hal ini hasil dari kajian pemerintah yang semestinya disambut baik pengusaha," tutur dia.
"I want to make more certain competition. Bukan cuma yang gede saja bisa hidup tapi for everyone. Tidak ada tujuan personal. Saya bukan orang yang punya hobi bikin susah orang. Saya sangat konstruktif dan mendukung," tandasnya.
(ang/ang)











































