Bila dilihat lebih jauh, komponen perhiasan dan permata mengalami penurunan paling signifikan, yaitu US$ 137,03 juta (25,49% m to m) dari US$ 537,6 juta menjadi US$ 400,6 juta.
"Turunnya ekspor memang paling besar dari negara Swiss," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (17/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penuruan ekspor juga terjadi pada garam, belerang, kapur sebesar US$ 7,5 juta, bahan kimia organik sebesar US$ 13,3 juta, kapal laut US$ 10,7 juta, perangkat optik US$ 6,6 juta, serat stapel buatan US$ 12,9 juta, dan kakao US$ 7,3 juta.
Suhariyanto menjelaskan, penurunan ekspor memang terjadi karena perlambatan ekonomi global yang masih berlanjut. Sehingga permintaan pasokan dari banyak negara terus berkurang. Pada sisi lain, memang harga komoditas masih rendah.
"Dari beberapa faktor global memang menunjukkan bahwa masih ada perlambatan," imbuhnya. (mkl/dna)










































