Ini Alasan Bangunan di Tengah Tol Cijago Belum Dibongkar

Fadhly F Rachman - detikFinance
Jumat, 28 Okt 2016 13:52 WIB
Foto: Fadhly F Rachman
Depok - Di tengah lalu-lalang pekerja dan alat berat yang melakukan pekerjaan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) seksi II, detikFinance menemukan sebuah bangunan di atas tanah yang menjulang tinggi di tengah badan jalan yang sedang dikerjakan.

Usut punya usut, bangunan tersebut merupakan tempat peribadatan yang bernama "Mushola Al-Ismati Rachman"

Menurut pengakuan Budi selaku Ketua RW 02, Kemiri Muka, Beji, Depok, belum dibongkarnya mushala tersebut karena masalah internal keluarga si pemilik tanah.

"Itu belum di bongkar karena ada sengketa sama ahli waris pemilik tanah itu," ungkap Budi saat disambangi detikFinance di kediamannya, Jumat (28/10/2016).

Ini Alasan Bangunan di Tengah Tol Cijago Belum DibongkarFoto: Fadhly F Rachman

Budi menjelaskan, mulanya pemilik tanah yang bernama Haji Asmat tersebut telah mewakaf-kan tanah miliknya untuk dijadikan sebagai mushola bagi warga pada tahun 1992 silam. Namun, pemberian wakaf tersebut tidak ada perjanjian secara tertulis.

"Tidak ada hitam di atas putih, enggak di bikin surat wakaf. Hanya secara lisan saja," katanya.

Karena masalah itu, beberapa pihak banyak mengaku sebagai ahli waris dari tanah tersebut.

"Jadi, itu anaknya Haji Asmat kan Banyak, Isterinya ada banyak juga. Nah, yang mushola ini seharusnya jadi hak milik isteri kedua dan anak (Haji Asmat). Tapi pihak dari isteri pertama dan anaknya juga merasa kalau memiliki hak atas tanah tersebut, jadi lah ditahan-tahan," terang Budi.

Mereka memperebutkan hak penerimaan dana ganti rugi atas tanah wakaf tersebut.

Maklum, harga pembebasan lahan untuk jalan tol Cijago seksi II ini cukup tinggi. Untuk tanah di sekitar musala, oleh tim pembebasan lahan dihargai Rp 6 juta per meter persegi. Bila berdiri bangunan di atasnya, bahkan nilai ganti rugi bisa mencapai Rp 10 juta.

Ini Alasan Bangunan di Tengah Tol Cijago Belum DibongkarFoto: Fathurahman/detikcom

Dengan bangunan mushala yang berukuran kurang lebih 50 meter persegi, maka dana pembebasan lahan setidaknya bisa dikantongi Rp 500 juta. Belum termasuk untuk ganti rugi bangunannya.

"Kalau sekarang, untuk tanah dihargai Rp 6 juta/meter, kalau ada bangunannya Rp 10 juta/meter. Jadi total bisa mencapai Rp 10 juta/meter. Makanya itu keluarganya kepingin dapet bagian semua," papar Budi.

Akibat sengketa kepemilikan tersebut, bangunan mushala itu belum juga dirobohkan hingga lebih dari setahun. (dna/dna)