ADVERTISEMENT

Baru Ada 214 Industri Farmasi di Indonesia, Kemenkes: Harusnya Ribuan

Yulida Medistiara - detikFinance
Kamis, 03 Nov 2016 13:19 WIB
Ilustrasi (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta - Kesehatan harusnya bisa menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi. Sayang, potensi industri kesehatan yang besar di Indonesia belum dimaksimalkan. Terlihat dari masih minimnya pelaku industri yang bergerak di sektor tersebut.

Direktur Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Detti Yuliati mengatakan, contohnya saja jumlah industri farmasi Indonesia pada 2016 ini baru mencapai 214 perusahaan. Seharusnya ada ribuan karena jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa.

"Saat ini ada 214 perusahaan farmasi. Kalau negara yang besar itu harusnya memiliki ribuan industri farmasi," kata Detti saat diskusi investasi sektor farmasi di kantor Badan Koordinasi Penananam Modal (BKPM), Kamis (3/11/2016).

Ia menyebut, setiap tahun pertumbuhan industri farmasi sangat sedikit. Pada tahun 2014, baru ada 192 industri farmasi. Sedangkan pada 2015 naik menjadi 211 industri farmasi. Namun, pada tahun 2016 ini hanya terjadi penambahan 3 industri saja menjadi 214 perusahaan.

Detti menyebut, Indonesia juga memiliki industri obat tradisional sebanyak 93 perusahaan pada 2016, jumlah ini naik dari tahun sebelumnya sebanyak 83 perusahaan. Serta sebanyak 11 perusahaan industri ekstrak bahan alam, naik dari pada tahun 2015 yang sebelumnya 9 perusahaan.

Ia menyebut persoalan tersebut tidak hanya terkait jumlah industri kesehatan yang masih sedikit. Akan tetapi, sebanyak 90% bahan baku farmasi masih impor.

"Bahan baku 90% dari impor. Kemudian Industri farmasi ada di produk di dalam negeri. Tapi bahan baku, dan tambahannya masih impor. Makanya kami mendorong industri farmasi ini ke hulunya," imbuh Detti.

Untuk meningkatkan ketersediaan obat dan pelayanan kepada masyarakat, Detti menyebut pemerintah telah memiliki aturan untuk menyusun dan menetapkan rencana aksi pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan. Hal itu telah diatur dalam Peraturan presiden (Perpres) No 72 tahun 2012. Perpres ini diperkuat oleh Intruksi Presiden (Inpres) No 6 tahun 2016.

"Ini menjadi konsen kami dalam meningkatkan ketersediaan obat untuk mendorong industri farmasi dalam penyediaan obatnya," ujar Detti.

Ia mengatakan, jika sektor farmasi tumbuh maka akan memperbaiki sektor sosial keamanan, keselamatan, dan kesehatan. Hal itu karena tanpa ada obat, program kesehatan ini tidak akan jalan dengan baik.

Dari segi ekonomi pun dapat menghemat devisa karena pemerintah bisa melakukan ekspor jika produksinya melimpah. Serta juga berpengaruh pada kontribusi industri ke GDP yang meningkat akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. (dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT