"Dari sisi pembandingan, ekonomi Indonesia kan dari sisi pertumbuhan ekonominya relatif jauh lebih sehat dibanding emerging country lainnya," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (8/11/2016).
Menurut Sri Mulyani, negara berkembang seperti Turki, Brasil, Rusia serta Afrika Selatan harus tumbuh rendah bahkan negatif. Hanya Indonesia dan India yang masih mampu bergerak di level 5%. Faktor utamanya adalah komponen sumber perekonomian dalam negeri masih bisa dijaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi pengelolaan keuangan negara juga terbukti Indonesia cukup baik. Defisit anggaran masih bisa dijaga di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Dari sisi APBN, Indonesia jumlah level defisitnya relatif sangat kecil dibanding emerging market yang lain. Jadi dari sisi makro ekonomi kita memiliki kinerja yang bisa menimbulkan confident jadi bisa mengurangi spekulasi dan sentimen negatif dari luar negeri," kata Sri Mulyani.
Indonesia juga dinilai baik dalam menjalankan reformasi struktural. Terlihat dari laporan Bank Dunia tentang ease of doing business (EODB) yang naik signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
"Indonesia baru saja disampaikan merupakan negara yang the best reformer dan yang paling cepat naiknya dari sisi EODB. Ini juga akan memberikan confident yang besar dan menetralisir sentimen negatif dari luar," imbuhnya.
Pemerintah harus terus konsisten dalam menjalankan kebijakan, agar ekonomi tetap stabil untuk tumbuh lebih tinggi.
"Kalau pemerintah bisa konsisten menjelaskan kebijakan-kebijakan ekonominya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri, maka diharapkan itu cukup kuat untuk kurangi atau mendiskriminasikan Indonesia dari sentimen negatif luar. Jadi kita nggak masuk kelompok negara lain yang rapuh," tukasnya. (mkl/drk)











































