Di RI Banyak Produk Berlabel Susu Segar, Tapi Isinya Susu Bubuk Dicairkan

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 08 Nov 2016 18:39 WIB
Foto: Muhammad Idris-detikFinance
Jakarta - Jika dibandingkan dengan negara lain, konsumsi susu masyarakat Indonesia terbilang rendah, hanya 13 liter per orang per tahun. Selain itu, konsumsi susunya juga lebih banyak berasal dari susu bubuk dan susu kental manis, bukan susu sapi segar.

Ketua Umum Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI), Agus Warsito, mengatakan banyak sekali susu yang beredar di pasar dengan label susu sapi segar, meski sebenarnya itu merupakan susu cair yang berasal dari susu bubuk, atau bubuk yang dicampur dengan susu segar murni dalam kemasan.

"Namanya susu segar ya yang keluar dari sapinya dan siap konsumsi. Bukan yang lewat proses pengeringan, ada merek susu segar padahal itu bubuk susu impor yang dicairkan," kata Agus acara Diskusi 'Industri Peternakan Sapi Perah Indonesia' di Hotel Atlet Century, Jakarta, Selasa (8/11/2016).

"Karena impor susu kebanyakan bentuk bubuk, dicairkan lagi di sini, lalu dianggap itu susu segar. Padahal keliru," tambahnya.

Menurut dia, pemerintah harus memiliki regulasi yang tegas untuk mengatur produsen mencantumkan label susu segar, meski dibuat dari susu skim bubuk.

"Makanya terkait labelling, harusnya ada yang mengatur label susu segar ya yang benar-benar bahan bakunya dari susu murni. Bukan dari proses pengeringan atau powder impor yang dicairkan," ucap Agus.

Tingginya konsumsi masyarakat atas susu cair berbahan skim bubuk, lanjutnya, juga jadi pendorong tingginya impor susu. Data Kementerian Perindustrian mencatat, dari total kebutuhan susu setahun 3,3 juta, sebanyak 80% berasal dari impor yang hampir semuanya berbentuk susu bubuk.

Bahan baku susu bubuk ini yang kemudian diolah kembali oleh industri menjadi susu kental manis dan susu bubuk.

"Kalau ada kenaikan konsumsi susu segar murni, pastinya itu akan lebih besar dipasok oleh peternak lokal. Dalam industri otomotif saja ada syarat batasan konten lokal, kenapa susu ini tidak ada," pungkas Agus. (hns/hns)