Sayangnya, ketiganya belum dikelola dengan baik.
Salah satu contohnya adalah pangan. Jokowi mengatakan, saat ini banyak produk pangan yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri tapi Indonesia masih impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agar tak melulu bergantung impor, Presiden Jokowi sampai memberi target kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan tak lagi melakukan impor berkaitan dengan pangan.
"Saya sudah beri target kepada Mentan 2018 kita harus tidak impor lagi karena sudah turun impornya 60% karena ada panen yang besar di NTB, Gorontalo, dan Jatim," kata dia.
Namun, kata Jokowi, memang pemerintah tak bisa bergerak sendiri meningkatkan produksi pangan. Butuh dukungan dari masyarakat.
"Ini bagaimana menggerakkan rakyat," sambung dia.
Agar bisa menggerakkan masyarakat mau bercocok tanam dan meningkatkan produksi dalam negeri, pemerintah saat ini tengah berupaya keras memecahkan permasalahan yang ada.
Misalnya, pada komoditas jagung. Menurut Jokowi, saat ini jarang sekali masyarakat yang mau menanam jagung karena masalah harga.
"Tahun lalu saat saya ke Dompu, ke Jatim, ke Magetan, semuanya mengeluh. Pak harga jagung hanya Rp 1.500 per kilo, padahal ongkos untuk tenaga kerja, benih, untuk pemeliharaan bisa Rp 1.600-1.700, berarti rugi. Siapa yang mau kerja kemudian hasilnya rugi? Nggak ada," tutur Jokowi.
Merespons masalah tersebut, tahun lalu dirinya menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait harga jagung.
"(Harga jagung) dipatok harganya Rp 2.700. Kalau harganya kurang dari Rp 2.700, Bulog yang beli. Kalau lebih (dari Rp 2.700) silakan jual kepada siapa saja. Sehingga petani semangat. Kuncinya ada di situ," pungkas dia. (dna/hns)











































