Target Jokowi: 2018 Tak Boleh Impor Pangan Lagi

Target Jokowi: 2018 Tak Boleh Impor Pangan Lagi

Ray Jordan - detikFinance
Rabu, 09 Nov 2016 12:15 WIB
Target Jokowi: 2018 Tak Boleh Impor Pangan Lagi
Foto: Muhammad Iqbal
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, Indonesia punya 3 kelompok barang yang akan jadi rebutan masyarakat dunia di masa depan. Ketiganya adalah, pangan, energi, dan air.

Sayangnya, ketiganya belum dikelola dengan baik.

Salah satu contohnya adalah pangan. Jokowi mengatakan, saat ini banyak produk pangan yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri tapi Indonesia masih impor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang ini saya bicara apa adanya, impor semuanya yang berkaitan dengan pangan. Beras tahun lalu impor tapi tahun ini nanti sampai akhir tahun semoga tidak. Jagung kita masih impor," kata Jokowi saat sambutan dalam Musyawarah Nasional ke-VII LDII di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (9/11/2016).

Agar tak melulu bergantung impor, Presiden Jokowi sampai memberi target kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan tak lagi melakukan impor berkaitan dengan pangan.

"Saya sudah beri target kepada Mentan 2018 kita harus tidak impor lagi karena sudah turun impornya 60% karena ada panen yang besar di NTB, Gorontalo, dan Jatim," kata dia.

Namun, kata Jokowi, memang pemerintah tak bisa bergerak sendiri meningkatkan produksi pangan. Butuh dukungan dari masyarakat.

"Ini bagaimana menggerakkan rakyat," sambung dia.

Agar bisa menggerakkan masyarakat mau bercocok tanam dan meningkatkan produksi dalam negeri, pemerintah saat ini tengah berupaya keras memecahkan permasalahan yang ada.

Misalnya, pada komoditas jagung. Menurut Jokowi, saat ini jarang sekali masyarakat yang mau menanam jagung karena masalah harga.

"Tahun lalu saat saya ke Dompu, ke Jatim, ke Magetan, semuanya mengeluh. Pak harga jagung hanya Rp 1.500 per kilo, padahal ongkos untuk tenaga kerja, benih, untuk pemeliharaan bisa Rp 1.600-1.700, berarti rugi. Siapa yang mau kerja kemudian hasilnya rugi? Nggak ada," tutur Jokowi.

Merespons masalah tersebut, tahun lalu dirinya menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait harga jagung.

"(Harga jagung) dipatok harganya Rp 2.700. Kalau harganya kurang dari Rp 2.700, Bulog yang beli. Kalau lebih (dari Rp 2.700) silakan jual kepada siapa saja. Sehingga petani semangat. Kuncinya ada di situ," pungkas dia. (dna/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads